INFOTREN.ID - Warga di Komplek Taman Mangu Indah, yang berlokasi di Tangerang Selatan, dilaporkan mulai menjual rumah mereka akibat peningkatan frekuensi banjir yang signifikan. Fenomena ini terjadi di wilayah yang membentang di RW 012 Kelurahan Jurang Mangu Barat dan RW 06 Kelurahan Pondok Aren.

Peristiwa banjir yang semakin sering ini mulai terasa dampaknya sejak Senin, 11 Mei 2026, sebagaimana dilaporkan oleh sumber berita. Kawasan pemukiman yang dipisahkan oleh Kali Ciputat ini sebelumnya hanya mengalami genangan air dalam siklus lima tahunan.

Namun, saat ini intensitas banjir telah meningkat drastis, dipicu oleh penyempitan daerah resapan air alami serta adanya kendala pada infrastruktur pencegah banjir yang ada. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan penghuni kawasan tersebut.

Ketua RT 02 RW 012 Komplek Taman Mangu Indah, Sugiyanto, mengonfirmasi adanya pergeseran pola bencana yang sangat mencolok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa genangan air kini bisa mencapai ketinggian pinggang orang dewasa ketika debit air sungai meningkat.

"Sekarang itu sudah nggak kenal (banjir) lima tahunan lagi. Kadang-kadang sebulan bisa banjir sampai tiga kali, empat kali gitu," ujar Sugiyanto saat diwawancarai pada Senin (11/5/2026).

Pemerintah setempat diketahui telah melakukan upaya peninggian tanggul pada tahun 2024, namun pengerjaan tersebut belum selesai secara menyeluruh. Kendala musim hujan turut menghambat efektivitas pencegahan, diperparah dengan jebolnya tanggul pada tahun 2025 yang menyebabkan air deras merendam pemukiman.

Sugiyanto menyoroti bahwa hilangnya lahan kosong di area hulu dan masifnya pembangunan perumahan baru menjadi penyebab utama berkurangnya daerah resapan air di wilayah tersebut. "Kalau menurut saya, kan dulu kan di hulu masih banyak tanah kosong. Jadi resapan tuh kan masih banyak. Sekarang sudah banyak perumahan, mau nggak mau resapan kan nggak ada," jelasnya.

Meskipun demikian, Sugiyanto menambahkan bahwa lingkungan sekitar masih terjaga dari segi keamanan dan kerukunan warga, terutama dengan adanya upaya peninggian tanggul hingga dua meter serta pengoperasian pompa air yang membantu mempercepat surutnya genangan.

Pengurus RW 06 juga mencatat pola banjir yang serupa, meskipun dampak ketinggian air di wilayah mereka tidak separah di RW 012, seringkali hanya setinggi betis atau mata kaki. Hal ini berkat adanya folder air dan peninggian tanggul yang berfungsi sebagai langkah preventif.