Di tengah kekhawatiran tentang ketergantungan gadget dan tekanan mental generasi muda, sebuah turnamen catur di Gianyar menawarkan jawaban yang tidak terduga — dan diikuti ratusan pelajar.

GIANYAR,BALI - Minggu pagi di Blangsinga, Kabupaten Gianyar, ratusan kursi terisi penuh. Di hadapan papan-papan catur yang tersusun rapi, para peserta dari usia sekolah dasar hingga grandmaster duduk berhadapan — berkonsentrasi, diam, dan sepenuhnya hadir.

Bali Rapid Open Tournament 2026 resmi dibuka. Dan angkanya berbicara sendiri: 416 peserta, dari 10 provinsi, empat negara — Indonesia, Inggris, Rusia, dan Ukraina.

Untuk sebuah turnamen catur di kabupaten yang lebih dikenal dengan sawah terasering dan seni ukirnya, ini bukan pencapaian kecil.

Ketika Pelajar Mendominasi

Yang paling menarik perhatian bukan jumlah total peserta — melainkan komposisinya. Dari 416 pecatur yang hadir, 248 di antaranya berasal dari kalangan pelajar SD hingga SMA. Lebih dari separuh peserta adalah anak-anak dan remaja.

Bagi I Nyoman Parta, Ketua Percasi Bali sekaligus inisiator turnamen ini, angka itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari sebuah keyakinan yang ia pegang dan perjuangkan selama bertahun-tahun: bahwa catur adalah salah satu jawaban paling konkret terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia saat ini.

"Catur menjadi salah satu filter bagi generasi muda dari dampak negatif penggunaan gadget berlebihan," ujar Parta. "Bermain catur secara langsung dengan papan fisik membantu mengurangi ketergantungan layar sekaligus meningkatkan interaksi sosial dan kemampuan berpikir."

Di era ketika rata-rata anak Indonesia menghabiskan lebih dari enam jam sehari di depan layar, pernyataan itu bukan sekadar retorika turnamen. Ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam.

Lebih dari Olahraga