INFOTREN.ID - Konflik berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat memilukan di Iran selama beberapa pekan terakhir. Organisasi Palang Merah Iran mencatat angka korban jiwa yang sangat mengkhawatirkan, khususnya di kalangan populasi paling rentan.
Data terbaru menunjukkan bahwa sejak perang tersebut dimulai pada akhir Februari, lebih dari 204 anak-anak telah kehilangan nyawa mereka. Angka ini menjadi sorotan utama dalam laporan mengenai dampak sipil dari eskalasi konflik tersebut.
Dari total korban anak yang tercatat, terdapat 53 kasus di mana korban meninggal dunia berusia di bawah lima tahun. Hal ini menggarisbawahi kerentanan ekstrem kelompok usia balita terhadap dampak perang.
Selain korban anak-anak, pihak Iran juga mengonfirmasi bahwa dua wanita hamil turut menjadi korban jiwa selama periode perang yang sama. Kematian ibu hamil menambah dimensi tragis pada krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini.
Dampak luas dari konflik ini juga terlihat pada sektor pendidikan, di mana sebanyak 498 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Kerusakan infrastruktur ini berpotensi mengganggu masa depan pendidikan generasi muda Iran.
Kondisi ini memicu respons keras dari pihak berwenang Iran yang menyoroti pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Mereka menilai serangan yang menargetkan warga sipil, termasuk ibu hamil dan anak-anak, melampaui batas operasi militer biasa.
"Ketika anak-anak dan ibu hamil menjadi sasaran, ini bukan lagi insiden militer, melainkan tanda pelanggaran serius terhadap martabat manusia," kata Palang Merah Iran, dilansir AFP, Jumat (20/3/2026).
Lebih lanjut, jumlah korban luka di antara warga sipil juga sangat besar, dengan catatan lebih dari 18.000 warga sipil menderita luka-luka akibat serangan yang terjadi.
Pihak Iran menekankan perlunya perhatian internasional segera terhadap situasi ini demi melindungi warga sipil yang terjebak dalam gejolak pertempuran antar negara.

