Anthropic PBC secara resmi mengambil langkah berani dengan menolak tawaran kerja sama terbaru dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon. Keputusan ini diambil di tengah perselisihan sengit mengenai protokol keamanan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam ranah militer. Langkah tersebut menunjukkan komitmen kuat perusahaan terhadap batasan etika pengembangan teknologi masa depan yang lebih bertanggung jawab.
Penolakan ini muncul hanya sehari sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh pemerintah setempat bagi perusahaan untuk melunakkan kebijakan pembatasan mereka. Jika tidak segera mencabut aturan tersebut, Anthropic terancam menghadapi konsekuensi serius yang dapat berdampak pada operasional bisnis mereka di masa depan. Ketegangan ini menandai babak baru dalam hubungan antara pengembang teknologi AI papan atas dan otoritas pertahanan negara.
Seorang juru bicara perusahaan menjelaskan bahwa draf kontrak baru dari pihak Pentagon masih belum memenuhi standar keamanan yang diinginkan oleh internal Anthropic. Perusahaan merasa perlu memastikan bahwa alat AI buatan mereka tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang melanggar nilai-nilai dasar kemanusiaan. Perusahaan tetap bersikeras untuk menjaga integritas teknologi mereka agar tetap berada dalam koridor penggunaan yang aman dan terkendali.
Dario Amodei, Chief Executive Officer (CEO) Anthropic, menegaskan bahwa ancaman dari pihak berwenang tidak akan menggoyahkan prinsip dasar yang dipegang perusahaan. Beliau menyatakan secara terbuka bahwa ancaman tersebut tidak mengubah posisi mereka dan pihaknya tidak dapat dengan hati nurani menyetujui permintaan Pentagon. Pernyataan tegas ini menjadi sinyal kuat bahwa etika profesional lebih diutamakan daripada nilai kontrak militer yang sangat besar.
Terdapat dua poin krusial yang menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi antara pihak Anthropic dan militer Amerika Serikat. Perusahaan dengan tegas menolak teknologinya digunakan untuk aktivitas pemantauan atau surveilans terhadap warga sipil di wilayah Amerika Serikat. Selain itu, mereka melarang keras penggunaan AI dalam serangan mematikan secara otonom yang dilakukan tanpa adanya campur tangan manusia sebagai pengambil keputusan.
Hingga saat ini, konfrontasi antara kedua belah pihak terus mengeras tanpa adanya tanda-tanda kesepakatan yang akan tercapai dalam waktu dekat. Pentagon terus memberikan tekanan agar batasan-batasan teknis tersebut segera dicabut demi fleksibilitas operasional militer di lapangan. Namun, Anthropic memilih untuk tetap bertahan pada posisi semula meski harus menghadapi risiko hukum atau administratif yang cukup berat dari pemerintah.
Kasus ini menjadi sorotan global mengenai bagaimana perusahaan teknologi besar berupaya mengendalikan pemanfaatan kecerdasan buatan di medan perang. Perdebatan mengenai batas-batas moral penggunaan AI militer diprediksi akan semakin memanas seiring dengan kemajuan teknologi yang kian pesat. Keputusan berani Anthropic ini pun menjadi preseden penting bagi industri teknologi global dalam menghadapi tuntutan dari sektor pertahanan.
Sumber: Bloombergtechnoz

