INFOTREN.ID - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar domestik kembali menghadapi tekanan berat pada penutupan perdagangan hari Senin, 16 Maret 2025. Mata uang Garuda ini tercatat mengakhiri sesi perdagangan dengan posisi yang semakin tergerus dari kurs sebelumnya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp16.997 untuk setiap satu dolar Amerika Serikat. Angka ini mengonfirmasi adanya depresiasi yang signifikan sepanjang hari perdagangan berlangsung.
Secara historis, pelemahan rupiah sempat mencapai titik kritis yang lebih dalam, menembus ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS pada sekitar pukul 14.50 WIB. Momen ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan nasional.
Secara akumulatif, pelemahan rupiah pada hari tersebut mencapai 39 poin, atau setara dengan depresiasi sebesar 0,23 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Porsi pelemahan ini terpantau paling signifikan jika dibandingkan dengan mata uang regional lainnya.
Pengamat pasar uang memberikan pandangannya mengenai faktor-faktor yang mendorong pelemahan rupiah hari itu. Mereka menyoroti adanya sentimen global yang sedang memburuk dan mempengaruhi persepsi investor terhadap aset berisiko di Indonesia.
"Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Timur Tengah yang terus memanas serta harga minyak dunia yang tetap tinggi," ujar Lukman Leong.
Sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah kian memicu pergerakan modal global. Hal ini mendorong peningkatan permintaan terhadap instrumen investasi yang dianggap aman atau aset safe haven, sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk neraca perdagangan Indonesia. Peningkatan biaya impor energi menjadi salah satu risiko yang dapat menyebabkan pelebaran defisit transaksi berjalan, yang secara langsung memberikan beban kepada nilai tukar.
Lebih lanjut, Lukman Leong menggarisbawahi adanya faktor domestik yang turut memperparah situasi. "Iya, sentimen domestik memang sudah lama negatif, tentunya Perppu ini makin mengkhawatirkan investor," kata Lukman Leong.

