INFOTREN.ID - Di sebuah gubuk bambu reyot, di tepi pantai Sikusama yang sunyi, Desa Tonggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), seutas tali mengakhiri hidup seorang pemuda bernama Rudolfus Oktafianus Ruma atau akrab disapa Vian Ruma. 

Lebih dari sekadar kematian, ini adalah simbol dari perjuangan yang terbungkam, suara yang dipaksa hening di tengah pusaran kepentingan.

Fakta yang Terungkap: Lebih dari Sekadar Gantung Diri

Vian Ruma, bukan hanya seorang guru ASN, tetapi juga aktivis lingkungan yang vokal menentang proyek Geothermal yang dianggap mengancam kelestarian alam dan kehidupan masyarakat adat.

Kematiannya pada 5 September 2025 silam, meninggalkan tanya besar.

Polisi menemukan jasadnya tergantung, namun kejanggalan demi kejanggalan bermunculan.

Hilang Kontak: Sebelum ditemukan tewas, Vian sempat hilang kontak selama dua hari.


Keraguan Rekan: Rekan-rekan aktivisnya meragukan Vian melakukan bunuh diri, mengingat semangatnya yang tinggi dalam memperjuangkan isu lingkungan.


Posisi Janggal: Posisi kaki korban yang menyentuh lantai gubuk menimbulkan pertanyaan, apakah ini benar-benar bunuh diri atau ada faktor lain yang terlibat?