INFOTREN.ID - Sebuah manuver politik tak terduga terungkap dalam persiapan kunjungan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) ke wilayah Solo. Rombongan yang memiliki agenda penting ini ternyata sempat menjadi sasaran upaya pembungkaman halus.

Upaya pencegahan kunjungan tersebut dilakukan melalui jalur finansial yang cukup menggiurkan. Pihak yang berkepentingan diduga menawarkan sejumlah uang besar agar TPUA mengurungkan niat mereka.

Secara spesifik, tawaran fantastis tersebut ditujukan agar rombongan TPUA membatalkan agenda mereka mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan juga kediaman Presiden di Solo. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya agenda yang hendak mereka laksanakan.

Manajemen Buku Gibran End Game, salah satu pihak yang terlibat dalam rombongan, angkat bicara mengenai insiden ini. Mereka membeberkan detail upaya "pembelian" kunjungan tersebut kepada publik.

Arif Ikhsan selaku perwakilan dari kelompok tersebut membenarkan adanya pendekatan finansial yang dilakukan oleh oknum tertentu. Nominal yang ditawarkan terbilang sangat signifikan untuk ukuran negosiasi semacam ini.

"Arif Ikhsan mengaku sempat ditawari uang sebesar Rp300 juta hingga Rp350 juta, agar rombongan yang tergabung dalam Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) membatalkan kunjungannya ke Solo," jelas Arif Ikhsan mengenai upaya suap tersebut.

Tawaran dengan nominal fantastis antara Rp300 juta hingga Rp350 juta ini jelas merupakan strategi untuk menghentikan pergerakan TPUA. Tujuannya adalah menggagalkan kunjungan yang direncanakan ke dua lokasi strategis tersebut.

Meski mendapatkan tawaran menggiurkan tersebut, agenda kunjungan TPUA ke UGM dan kediaman Presiden di Solo tampaknya tetap berjalan sesuai rencana awal. Hal ini menunjukkan keteguhan mereka pada tujuan awal pembentukan tim.

Peristiwa ini menambah lapisan dramatis pada dinamika politik menjelang momentum penting, di mana upaya pembungkaman melalui iming-iming uang terbukti pernah dilakukan secara terang-terangan.