INFOTREN.ID - Pergerakan nilai tukar rupiah menghadapi tantangan berat pada awal perdagangan hari Senin, 16 Maret 2026. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan ketika pasar dibuka.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, rupiah terperosok ke level Rp16.965 untuk setiap dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan adanya tekanan signifikan yang dihadapi mata uang domestik.
Secara rinci, pelemahan ini setara dengan koreksi 7 poin atau sekitar 0,04 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan sentimen negatif yang mulai mendominasi pasar.
Kondisi serupa juga terlihat pada mata uang di kawasan Asia lainnya yang secara umum dilaporkan bergerak melemah pada sesi perdagangan pagi ini. Situasi ini menggambarkan adanya tren pelemahan regional yang meluas.
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, memberikan pandangannya mengenai prospek rupiah ke depan. Ia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan terus berada di bawah tekanan sepanjang hari perdagangan ini.
Tekanan utama ini dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar global, terutama dampak dari konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Selain itu, harga minyak dunia yang tetap bertahan di level tinggi turut memperburuk sentimen.
"Sentimen geopolitik tersebut memicu peningkatan permintaan terhadap aset-aset safe haven dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujar Lukman Leong.
Kenaikan harga komoditas energi global tersebut juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi.
Lebih lanjut, Lukman Leong juga menyoroti isu domestik yang turut membebani psikologi investor. "Iya, sentimen domestik memang sudah lama negatif, tentunya perpu ini makin mengkhawtirkan investor," katanya.

