INFOTREN.ID - Sebuah insiden keamanan serius mengguncang sektor energi Kerajaan Bahrain setelah fasilitas penyimpanan minyak mengalami kebakaran hebat. Peristiwa ini terjadi akibat serangan udara yang dilakukan menggunakan wahana nirawak atau drone.

Api besar dilaporkan berkobar di salah satu tangki penyimpanan milik perusahaan energi vital di negara tersebut. Kejadian ini segera menarik perhatian internasional mengingat sensitivitas infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Pihak berwenang segera mengerahkan tim pemadam kebakaran untuk menjinakkan kobaran api yang sempat membahayakan area sekitar fasilitas tersebut. Upaya penanganan dilakukan secara intensif sejak laporan kebakaran pertama diterima.

Setelah beberapa waktu berjuang, petugas berhasil mengendalikan situasi dan memadamkan api sepenuhnya. Kondisi terkini menunjukkan bahwa api sudah berhasil ditangani dan tidak lagi menyebar ke struktur lain.

Perusahaan yang menaungi fasilitas tersebut, Bapco Energies, telah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai insiden yang terjadi pada hari Minggu, 5 April 2026. Mereka mengonfirmasi sumber utama dari kebakaran tersebut.

"Bapco Energies mengkonfirmasi insiden yang terjadi di salah satu fasilitas penyimpanannya hari ini yang mengakibatkan kebakaran tangki, sebagai akibat dari serangan drone Iran yang bermusuhan," kata perusahaan itu, dilansir dari AFP, Minggu (5/4/2026).

Pernyataan tersebut secara eksplisit menuding Republik Islam Iran sebagai aktor di balik serangan drone yang memicu insiden merusak di instalasi energi tersebut. Namun, perusahaan tidak merinci secara spesifik lokasi pasti tangki yang terbakar.

Syukurlah, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai adanya korban jiwa maupun pihak-pihak yang mengalami luka-luka akibat serangan drone dan kebakaran susulan ini. Fokus utama kini beralih pada penilaian kerusakan infrastruktur.

Meskipun api telah padam dan situasi telah terkendali, dampak jangka panjang dari serangan ini terhadap stabilitas pasokan energi regional masih perlu dievaluasi lebih lanjut oleh otoritas Bahrain.