INFOTREN.ID - Pada Minggu pagi (24/5/2026) waktu setempat, ibu kota Ukraina, Kyiv, serta sejumlah wilayah sekitarnya diguncang oleh serangkaian ledakan besar akibat operasi udara yang dilancarkan oleh militer Rusia. Serangan ini tercatat sebagai salah satu gempuran udara terbesar sejak dimulainya invasi yang berlangsung.
Serangan masif tersebut melibatkan penggunaan sekitar 90 rudal dan 600 drone serang yang diarahkan ke berbagai target di Ukraina. Dalam rangkaian agresi ini, Rusia dilaporkan turut menggunakan rudal balistik jarak menengah jenis Oreshnik yang dikenal memiliki daya destruktif tinggi.
Gempuran tersebut dilaporkan memicu kebakaran hebat di beberapa pusat bisnis vital dan mengakibatkan kerusakan pada puluhan bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal warga sipil. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa wilayah ibu kota menjadi fokus utama dari serangan yang dilancarkan oleh pasukan Moskow tersebut.
"Serangan paling banyak terjadi di Kyiv. Mereka menghantam fasilitas pasokan air, membakar pasar, dan merusak puluhan bangunan tempat tinggal," ujar Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina.
Data awal menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat sebagian serangan, namun tercatat ada 16 rudal dan 51 drone yang berhasil menembus pertahanan dan menghantam 54 lokasi berbeda di Ukraina.
Dampak fatal dari jatuhnya proyektil di wilayah Kyiv segera dilaporkan oleh otoritas setempat. Wali Kota Kyiv, Vitaly Klitschko, memberikan informasi mengenai korban jiwa dan luka-luka yang terjadi di ibu kota.
"Sedikitnya dua orang tewas di ibu kota, sementara lebih dari 70 lainnya luka-luka," kata Vitaly Klitschko, Wali Kota Kyiv.
Secara keseluruhan di tingkat nasional, korban jiwa meningkat dengan total empat orang meninggal dunia dan lebih dari 80 orang mengalami luka-luka. Informasi ini disampaikan oleh Perdana Menteri Yulia Svyrydenko, sebagaimana dikutip dari Media Indonesia.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi penggunaan rudal Oreshnik untuk ketiga kalinya dalam operasi ini, dengan tujuan menargetkan fasilitas industri militer dan pusat komando. Namun, pihak Rusia membantah sengaja mengincar infrastruktur sipil dalam serangan tersebut.