INFOTREN.ID – Riuh politik Tanah Air kembali bergaung. Setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan siap memikul tanggung jawab penuh atas proyek ambisius Kereta Cepat Whoosh, publik justru terbelah.
Niat menunjukkan ketegasan seorang pemimpin malah memantik gelombang spekulasi baru: isu reshuffle yang menyeret nama Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya juga viral menolak membayar utang Kereta Cepat Whoosh.
Pernyataan Prabowo yang diucapkan dengan nada tegas di tengah peresmian Stasiun Tanah Abang Baru sontak menimbulkan tafsir beragam.
“Jadi saya sekarang tanggung jawab Whoosh. Whoosh itu, semua pabrik transportasi di seluruh dunia jangan dihitung untung rugi, hitung manfaat nggak untuk rakyat. Ini namanya public service obligation (PSO),” ujar Prabowo pada 4 November 2025 lalu.
Kalimat tersebut dianggap sebagian pihak sebagai simbol keberanian seorang presiden untuk berdiri di garis depan pembangunan nasional.
Namun bagi sebagian lainnya, pernyataan itu justru menandai fase baru beban fiskal negara yang kian berat.
Riuh Dunia Maya: Ketika “Yaakali” Jadi Jawaban Politik
Tak butuh waktu lama, jagat maya langsung dipenuhi perbincangan tentang potensi reshuffle kabinet.
Nama Menkeu Purbaya disebut-sebut tak sejalan dengan arah kebijakan pembiayaan proyek Whoosh.

