Mata uang Garuda menunjukkan pergerakan dinamis terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (3/3/2026). Nilai tukar rupiah terpantau berada dalam rentang Rp16.700 hingga Rp17.020 per dolar AS berdasarkan pantauan di sejumlah bank nasional. Meskipun sempat tertekan, posisi rupiah mulai memperlihatkan perlawanan di tengah ketidakpastian pasar global yang meningkat.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan kurs e-rate pada posisi beli Rp16.848 dan jual Rp16.950 per dolar AS untuk transaksi tertentu. Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) mematok kurs e-rate di level beli Rp16.812 dan jual Rp16.882 per dolar AS hingga pukul 08.21 WIB. Kedua bank besar ini mencatat angka jual pada TT counter yang menyentuh level Rp17.000 hingga Rp17.020 per dolar AS.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga merilis kurs special rates dengan posisi beli Rp16.810 dan jual Rp16.890 per dolar AS. Untuk kategori bank notes dan TT counter, BNI mematok harga beli Rp16.715 serta harga jual sebesar Rp17.015 per dolar AS. Fluktuasi harga di perbankan ini mencerminkan tingginya permintaan valuta asing pada awal bulan Maret ini.
Ibrahim Assuaibi, Pengamat komoditas dari Traze Andalan Futures, memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah. Ia memperkirakan rentang pergerakan berada di kisaran Rp16.860 hingga Rp16.910 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Sebelumnya, rupiah telah mengalami koreksi sebesar 81 poin ke level Rp16.868 pada sesi perdagangan kemarin.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan nilai tukar saat ini. Eskalasi konflik pasca pembunuhan tokoh berpengaruh di Iran memicu kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz. Ketegangan regional ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan aset mereka di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik memberikan sentimen positif melalui data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur. S&P Global mencatat aktivitas manufaktur Indonesia melonjak ke level 53,8 pada Februari 2026, yang merupakan ekspansi tertinggi sejak Maret 2024. Peningkatan volume penjualan turut mendorong perusahaan melakukan rekrutmen pegawai secara masif dalam beberapa bulan terakhir.
Memasuki pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah di pasar valas justru terpantau berbalik menguat tipis. Mata uang Garuda berada di level Rp16.860 per dolar AS, atau menguat sekitar 0,05% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan sebesar Rp8 ini memberikan angin segar bagi pasar meskipun tekanan eksternal masih cukup kuat membayangi.
Sumber: Market.bisnis

