INFOTREN.ID - Pada Jumat, 10 Juli 2026, mata uang Asia secara umum menunjukkan tren penguatan. Namun, jika dilihat secara akumulatif sepanjang pekan, pelemahan yang cukup signifikan masih tercatat.

Rupiah Indonesia berhasil ditutup pada posisi Rp18.045 per dolar AS. Penguatan tipis sebesar 0,14% pada hari itu berhasil membalikkan tren pelemahan yang sempat terjadi sebelumnya.

Pe ngguatan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan dolar Amerika Serikat selama dua hari berturut-turut. Faktor utama yang memicu pergerakan ini adalah kembali meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama sentimen negatif terhadap dolar AS. Pelaku pasar global juga secara cermat mencermati perkembangan ini.

Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga memberikan perhatian besar pada pergerakan harga minyak global. Fluktuasi harga komoditas energi ini memiliki dampak luas terhadap perekonomian dunia.

Potensi inflasi global juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan para investor. Kenaikan harga minyak dapat berimplikasi langsung pada tingkat inflasi di berbagai negara.

Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, menyoroti krusialnya aliran modal asing bagi perekonomian Indonesia. Ia menekankan bahwa "Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," ujar Fakhrul dalam catatannya pada Kamis, 9 Juli 2026.

Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya strategi ekonomi yang berkelanjutan untuk menarik investasi asing. Penguatan neraca pembayaran menjadi kunci stabilitas ekonomi jangka panjang.

Dikutip dari JAKARTAHYPE.COM, perkembangan ini menunjukkan bagaimana dinamika global dapat secara langsung memengaruhi posisi mata uang di pasar Asia.