INFOTREN.ID - Pemerintah menyatakan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sangat terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik, termasuk usulan agar Indonesia menangguhkan atau bahkan menarik diri dari keanggotaan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Donald Trump. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyampaikan hal ini usai mendampingi Presiden dalam pertemuan dengan tokoh ulama dan ormas Islam di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (5/3) malam, sebagaimana dikutip dari Antara.
Nusron menegaskan bahwa Presiden Prabowo merasa berkewajiban untuk memaparkan secara komprehensif mengenai posisi strategis Indonesia dalam forum internasional tersebut. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa pemerintahan saat ini tidak anti terhadap kritik dan terus mencermati berbagai dinamika yang terjadi. Pihak pemerintah masih memandang BoP sebagai wahana krusial untuk mengupayakan resolusi damai, terutama dalam konteks konflik Timur Tengah dan isu Palestina.
Menurut penjelasan Nusron, posisi pemerintah saat ini adalah memanfaatkan BoP sebagai bagian dari upaya diplomasi Indonesia untuk mendorong terciptanya perdamaian di kawasan tersebut. Langkah ini dinilai perlu diuji coba terlebih dahulu sebelum diputuskan untuk mengambil tindakan ekstrem. Nusron berpendapat, tidak bijaksana untuk langsung menghentikan keanggotaan tanpa memberikan kesempatan penuh pada ikhtiar diplomasi yang telah disepakati.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo sempat menanyakan mengenai alternatif forum lain yang tersedia jika Indonesia memutuskan keluar dari BoP. Pemerintah meyakini bahwa saat ini, forum tersebut merupakan satu-satunya wadah yang tersedia untuk membahas secara substantif upaya perdamaian di Palestina dan Gaza. Indonesia bersama delapan negara lain telah menyepakati penggunaan forum ini sebagai ruang dialog untuk penyelesaian konflik.
Lebih lanjut, Nusron mengungkapkan bahwa Presiden tengah menggiatkan langkah-langkah diplomatik guna meredakan ketegangan di Timur Tengah, termasuk kemungkinan membuka jalur komunikasi dengan Iran. Upaya ini dikabarkan telah mendapatkan dukungan dari beberapa negara kawasan Timur Tengah serta negara Islam lainnya seperti Pakistan dan Uni Emirat Arab. Hal ini sejalan dengan pertemuan sehari sebelumnya di mana Prabowo mengundang para mantan presiden, wapres, dan ketua umum partai politik.
Terkait isu geopolitik global, Nusron memaparkan bahwa Presiden Prabowo mengajak para ulama dan pimpinan ormas Islam untuk bersatu padu menghadap gejolak internasional. Diskusi intensif ini berlangsung dari pukul 16.00 WIB hingga selesai buka puasa, dihadiri oleh tokoh seperti Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof KH Haedar Nashir. Selain itu, Presiden juga memaparkan perkembangan geoekonomi dan kebijakan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat, termasuk kesepakatan ART.
Sementara itu, situasi di Palestina tetap memanas, di mana laporan WAFA menyebutkan intensitas serangan militer Israel di Tepi Barat meningkat selama enam hari berturut-turut, disertai penangkapan massal dan pembatasan pergerakan warga. Presiden berharap para tokoh Islam dapat bersama-sama dengan pemerintah dalam satu barisan untuk menyikapi dinamika global ini.

