INFOTREN.ID - PLN Indonesia Power menegaskan komitmen kuatnya dalam mendukung agenda transisi energi nasional melalui pengembangan infrastruktur pembangkit yang lebih bersih dan efisien. Langkah ini merupakan implementasi strategis dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025 hingga 2034.

Perusahaan telah menyiapkan total 268 proyek pembangunan pembangkit listrik baru yang diperkirakan akan menambah kapasitas energi sebesar 30.276,2 MW. Proyek-proyek masif ini akan didistribusikan secara merata di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.

Inisiatif pengembangan kapasitas pembangkit ini memiliki peran vital dalam memperkuat ketahanan energi domestik. Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai swasembada energi serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.

Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyampaikan bahwa rencana besar ini merupakan bagian integral dari transformasi korporasi menuju sistem pembangkitan yang mengutamakan aspek ramah lingkungan.

"PLN Indonesia Power berkomitmen untuk menjadi salah satu penggerak utama transisi energi nasional. Melalui pengembangan pembangkit baru yang semakin didominasi energi baru terbarukan serta upaya dekarbonisasi pembangkit eksisting, kami optimistis dapat mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060,” ujar Bernadus.

Bernadus menjelaskan bahwa dari total alokasi yang disiapkan, sekitar 28 GW berasal dari penugasan RUPTL 2025, sementara 2,2 GW merupakan proyek yang sudah ada penugasannya. Secara rinci, program ini mencakup 255 proyek baru di bawah RUPTL 2025 dan 13 proyek yang telah ditugaskan sebelumnya.

Dalam peta jalan menuju pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, PLN Indonesia Power menargetkan transformasi kapasitas pembangkit mereka dari sekitar 23 GW di tahun 2025 menjadi 107 GW pada akhir periode tersebut.

Transformasi ini akan dilakukan melalui dua pilar utama, yaitu pembangunan pembangkit baru yang rendah emisi atau nol karbon, serta upaya optimalisasi pembangkit eksisting agar beroperasi lebih efisien dan menghasilkan emisi yang lebih rendah.

Di samping pembangunan fasilitas baru, perusahaan juga aktif melakukan berbagai upaya dekarbonisasi pada pembangkit yang sudah beroperasi. Ini mencakup penerapan teknologi seperti biomass cofiring, pemanfaatan hidrogen dan biofuel, serta pengembangan teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).