INFOTREN.ID - Permintaan yang sangat serius disampaikan oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, kepada mitranya di Amerika Serikat, Donald Trump. Permintaan ini berfokus pada upaya mendesak penghentian konflik yang kini terus berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Situasi geografis yang dimaksud oleh Sisi adalah wilayah Teluk, di mana peperangan telah berlangsung selama dua bulan penuh tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda. Intensitas konflik ini mendorong Mesir untuk mencari intervensi diplomatik tingkat tinggi.
Permintaan langsung ini diungkapkan Sisi saat konferensi pers bersama di Kairo, ibu kota Mesir. Momen tersebut terjadi bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, ke negara piramida tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang tegas, Sisi menyampaikan harapannya secara langsung kepada Trump mengenai peran krusial yang bisa dimainkan oleh Amerika Serikat. Permintaan ini disampaikan dengan nada mendesak dan penuh harapan kemanusiaan.
"Saya katakan kepada Presiden Trump: tidak seorang pun akan mampu menghentikan perang di wilayah kita, di Teluk... Tolong, bantu kami menghentikan perang, Anda mampu melakukannya," kata Sisi dalam pernyataan bersama kepada pers di Kairo, ibu kota Mesir bersama Presiden Siprus Nikos Christodoulides yang datang berkunjung.
Sisi menekankan bahwa seruannya ini bukan hanya mewakili kepentingan politik Mesir semata, melainkan juga didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan yang lebih luas. Ia menempatkan Trump dalam lingkaran tokoh yang berpihak pada upaya perdamaian global.
"Saya berbicara kepada Anda atas nama kemanusiaan dan atas nama semua orang yang mencintai perdamaian -- dan Anda, Tuan Presiden, termasuk di antara mereka yang mencintai perdamaian," ujar Sisi, dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/3/2026).
Pernyataan yang disampaikan pada Selasa, 31 Maret 2026, ini menggarisbawahi kekhawatiran mendalam Mesir terhadap dampak destabilisasi yang ditimbulkan oleh konflik yang berlarut-larut di kawasan tersebut.
Permintaan bantuan dari pemimpin Mesir ini secara eksplisit menyoroti kapasitas Washington untuk memengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah secara signifikan. Hal ini menunjukkan pengakuan atas pengaruh kuat yang masih dimiliki Amerika Serikat.