INFOTREN.ID - Ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali memuncak setelah militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara intensif ke wilayah Lebanon Selatan. Serangan terbaru ini dilaporkan telah mengakibatkan korban jiwa yang signifikan di pihak keamanan negara tersebut.
Fokus utama dari bombardir tersebut adalah kota Nabatiyeh, yang terletak di bagian selatan Lebanon. Serangan pada hari Jumat, tepatnya 10 April, tersebut menewaskan sedikitnya 13 personel keamanan negara Lebanon.
Ironisnya, serangan mematikan ini terjadi ketika Beirut tengah mempersiapkan diri untuk memasuki babak perundingan gencatan senjata dengan pihak Tel Aviv. Eskalasi kekerasan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keseriusan kedua belah pihak dalam mencapai resolusi damai.
Informasi mengenai serangan besar ini dikonfirmasi melalui laporan resmi dari kantor berita Lebanon. Sumber informasi utama berasal dari National News Agency (NNA), lembaga berita resmi negara tersebut.
Peristiwa mengerikan ini menjadi perhatian internasional luas setelah mendapatkan liputan media asing. Semua informasi rinci mengenai insiden ini kemudian dilansir dari AFP, pada Sabtu, 11 April 2026.
NNA merinci bagaimana operasi udara tersebut berlangsung dengan intensitas tinggi. Mereka menyebutkan bahwa "pesawat-pesawat tempur musuh melancarkan serangkaian serangan besar" ke area Nabatiyeh pada hari Jumat (10/4) waktu setempat.
Dampak fisik dari serangan udara tersebut terlihat sangat parah di lokasi sasaran. Seorang fotografer dari kantor berita AFP yang berada di lokasi kejadian menjadi saksi mata atas kehancuran yang ditimbulkan.
Fotografer tersebut secara langsung menyaksikan kondisi mengenaskan di kantor Keamanan Negara. Di lokasi tersebut, dilaporkan bahwa api masih terlihat berkobar hebat meskipun serangan sudah usai.
Kondisi di lapangan semakin menegaskan skala kerusakan yang terjadi akibat serangan udara Israel tersebut. Kehancuran kantor Keamanan Negara menjadi bukti nyata dari intensitas bombardir yang dilakukan.