INFOTREN.ID - Sebuah pergeseran sentimen politik yang kontras sedang terjadi di kalangan masyarakat Arab Sunni di Timur Tengah. Mereka kini menunjukkan dukungan yang mengejutkan terhadap Republik Islam Iran.
Fenomena ini berakar pada dinamika konflik regional yang kompleks, terutama terkait dengan musuh bersama yaitu Israel. Dukungan ini sering kali muncul hanya saat kepentingan bersama melawan Tel Aviv menjadi fokus utama.
Fenomena unik ini dianalisis secara mendalam oleh seorang jurnalis terkemuka asal Maroko. Ia mencoba mengungkap lapisan psikologis dan politik di balik reaksi publik tersebut.
Jurnalis tersebut menuangkan analisisnya dalam sebuah artikel yang menyoroti kontradiksi dalam pandangan Sunni terhadap Iran Syiah. Perspektif ini menunjukkan pragmatisme politik di atas perbedaan sektarian.
"Bagi orang Arab Sunni, kaum Syiah Iran baru menjadi Muslim ketika mereka menyerang Israel," demikian ulasan tajam yang disampaikan oleh jurnalis Maroko tersebut. Kutipan ini menyoroti syarat penerimaan sektarian yang bersifat situasional.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa identitas keagamaan sekunder (Syiah/Sunni) dapat dikesampingkan sementara. Hal ini terjadi ketika ada ancaman atau aksi konfrontatif yang dipandang positif terhadap Israel.
Analisis ini dilansir dari ulasan mendalam yang mencoba membedah narasi publik di berbagai negara Arab. Ini menunjukkan bagaimana agenda geopolitik dapat membentuk persepsi mayoritas.
Perubahan sikap mendadak ini menegaskan bahwa politik luar negeri dan isu Palestina sering kali menjadi faktor dominan dalam opini publik Arab, melampaui perpecahan Sunni-Syiah yang telah lama mengakar.

