INFOTREN.ID - Sahur sering kali terasa terburu-buru, namun melewatkan waktu makan ini dapat berdampak signifikan terhadap performa tubuh kita seharian penuh. Mengubah kebiasaan sahur menjadi momen perencanaan nutrisi adalah langkah awal menuju puasa yang lebih bertenaga dan sehat.

Faktanya, santap sahur berfungsi sebagai 'bahan bakar' utama yang akan digunakan tubuh selama periode puasa yang panjang. Asupan nutrisi yang seimbang pada waktu ini membantu menstabilkan kadar gula darah dan mencegah dehidrasi dini.

Secara fisiologis, sahur membantu menekan produksi hormon stres kortisol yang cenderung meningkat saat perut kosong terlalu lama. Dengan asupan yang tepat, tubuh memiliki cadangan energi yang dilepaskan secara perlahan, bukan terpaksa membakar cadangan lemak secara drastis.

Para ahli gizi menyarankan prioritas utama saat sahur adalah kombinasi karbohidrat kompleks, protein, dan serat yang tinggi. Karbohidrat kompleks seperti oatmeal atau nasi merah dicerna lebih lambat, menjamin pelepasan energi yang berkelanjutan hingga waktu berbuka tiba.

Jika sahur hanya diisi oleh makanan manis atau cepat saji, lonjakan energi sesaat akan diikuti oleh penurunan drastis yang memicu rasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Hindari juga minuman tinggi gula yang justru mempercepat proses dehidrasi tubuh.

Langkah praktis yang bisa diterapkan adalah menyiapkan komponen sahur sejak malam sebelumnya, misalnya merendam biji-bijian atau memotong buah-buahan. Memastikan hidrasi dengan minum air putih yang cukup juga sangat krusial sebelum imsak tiba.

Dengan menerapkan perencanaan sahur yang cermat, kita tidak hanya menjalankan ibadah dengan nyaman, tetapi juga mendukung fungsi metabolisme tubuh agar tetap prima di tengah pembatasan asupan makanan.

Disclaimer: Artikel ini ditulis dan dipublikasikan secara otomatis oleh sistem kecerdasan buatan (AI). Konten disusun berdasarkan topik yang relevan dan dikurasi oleh redaksi digital kami.