INFOTREN.ID - Jakarta kembali dilanda musibah banjir setelah semalaman diguyur hujan dengan intensitas yang sangat tinggi. Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan ibu kota terhadap ancaman hidrometeorologi.

Menanggapi kondisi ini, Gubernur DKI Jakarta menyatakan keyakinannya bahwa upaya mitigasi yang sedang berjalan akan memberikan dampak signifikan dalam mengurangi frekuensi dan luasan genangan air. Fokus utama saat ini adalah pada penanganan sistem drainase perkotaan.

Pramono Anung menjelaskan bahwa tingginya volume air yang menyebabkan banjir saat itu disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Jakarta. Data menunjukkan intensitas curah hujan mencapai angka yang sangat tinggi.

"Jadi, banjir hari ini adalah banjir karena curah hujan yang tinggi sekali, 264 (mm), dan berlangsung hampir seharian ini," ujar Pramono kepada wartawan pada Minggu, 8 Maret 2026.

Upaya struktural jangka panjang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta difokuskan pada perbaikan infrastruktur sungai yang vital bagi pengendalian banjir di Ibu Kota. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan kapasitas aliran air.

"Dan sebenarnya, Pemerintah DKI Jakarta sudah melakukan normalisasi tiga sungai yang ada, yaitu Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut," tambahnya.

Normalisasi ketiga sungai tersebut—Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut—dianggap sebagai investasi penting untuk masa depan ketahanan Jakarta terhadap banjir. Proses ini mencakup pengerukan sedimen dan pelebaran badan sungai.

Meskipun optimis terhadap efektivitas normalisasi, Gubernur juga bersikap realistis mengenai potensi bencana alam yang ekstrem. Ia menegaskan bahwa menghilangkan banjir sepenuhnya adalah hal yang sulit dicapai dalam kondisi tertentu.

Fokus pemerintah adalah pada upaya mitigasi yang masif, namun harus diakui bahwa fenomena alam dengan curah hujan di atas rata-rata tetap menjadi variabel yang sulit dikendalikan sepenuhnya.