INFOTREN.ID - Memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women's Day/IWD) menjadi sebuah titik penting untuk merefleksikan dan menggalakkan kesadaran akan isu kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan di Indonesia. Momen ini seharusnya tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga ajang introspeksi kolektif.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti urgensi peringatan ini sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan pemahaman seluruh elemen bangsa mengenai pentingnya hak-hak perempuan. Hal ini sejalan dengan upaya pembangunan nasional yang inklusif dan berkeadilan.

Dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan pada Minggu (8/3/2026), Rerie, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa IWD adalah waktu krusial untuk mengukur sejauh mana kemajuan telah dicapai dalam isu gender. Ia melihat peringatan ini sebagai katalisator perubahan sosial yang lebih mendalam.

"Peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women's Day/IWD) merupakan momentum penyadaran setiap anak bangsa tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi perempuan," ujar Lestari Moerdijat. Pernyataan ini menekankan bahwa tanggung jawab kesetaraan bukan hanya milik segelintir kelompok, melainkan kewajiban seluruh masyarakat.

Lebih lanjut, Rerie menggarisbawahi bahwa mewujudkan cita-cita kesetaraan gender merupakan sebuah perjuangan kolektif yang membutuhkan sinergi lintas sektor. Upaya ini tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja.

Ia secara tegas menyatakan bahwa implementasi kesetaraan gender memerlukan dukungan nyata dari berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil. Dukungan ini harus bersifat berkelanjutan dan terintegrasi dalam setiap kebijakan.

Menurut Rerie, keberhasilan mencapai kesetaraan struktural memerlukan kebijakan yang memiliki dampak signifikan dan terukur di lapisan masyarakat paling bawah sekalipun. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, kesenjangan akan terus terjadi.

Ia menegaskan bahwa upaya mewujudkan kesetaraan gender tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak serta kebijakan yang berdampak secara struktural di masyarakat, kata Lestari Moerdijat. Hal ini mengindikasikan perlunya reformasi sistemik untuk menghilangkan hambatan diskriminatif.

Rerie berharap momentum IWD tahun 2026 ini dapat mendorong percepatan realisasi janji-janji kesetaraan gender yang selama ini menjadi agenda penting dalam pembangunan Indonesia. Semangat kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan implementasi di lapangan.