INFOTREN.ID - Fenomena harga jual telur ayam ukuran besar yang cenderung lebih murah dibandingkan telur ukuran kecil seringkali membingungkan konsumen di pasar tradisional maupun modern. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai mekanisme penentuan harga di tingkat peternakan dan distribusi.

Untuk memahami anomali harga ini, perlu ditelusuri bagaimana proses produksi dan preferensi pasar memengaruhi bobot dan nilai jual telur yang dihasilkan oleh ayam petelur. Faktor penawaran dan permintaan menjadi kunci utama dalam memahami dinamika penetapan harga komoditas pangan ini.

Ketua Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Denny Wina Gunawan, M.Si., memberikan perspektif ilmiah mengenai isu yang kerap diperdebatkan oleh masyarakat ini. Beliau menjelaskan bahwa perbedaan harga ini sangat dipengaruhi oleh standar grading atau pengelompokan ukuran telur.

Denny Wina menjelaskan bahwa mayoritas konsumen cenderung mencari ukuran telur standar atau sedang karena dianggap paling ideal untuk kebutuhan harian rumah tangga. Hal ini menciptakan permintaan yang lebih tinggi untuk kategori ukuran tersebut.

"Sebenarnya, perbedaan harga ini sangat erat kaitannya dengan sistem grading yang diterapkan di industri peternakan ayam petelur," ujar Prof. Denny Wina Gunawan.

Ketika permintaan untuk ukuran standar sangat tinggi, secara otomatis harga jual untuk kategori tersebut akan cenderung lebih stabil atau bahkan meningkat karena tingginya serapan pasar. Akibatnya, telur berukuran jumbo terkadang harus menyesuaikan harga agar cepat terserap pasar.

Prof. Denny Wina menambahkan bahwa telur ukuran jumbo seringkali diproduksi melebihi proporsi yang diinginkan oleh pasar ritel utama. Hal ini mendorong pedagang untuk menurunkan harga agar stok tidak menumpuk di gudang.

"Telur jumbo seringkali harus dijual lebih murah karena volume produksinya melebihi permintaan pasar utama yang cenderung mencari ukuran medium," kata Prof. Denny Wina Gunawan.

Selain itu, faktor efisiensi produksi juga berperan, di mana beberapa ayam petelur secara alami menghasilkan telur dengan bobot yang lebih besar tanpa peningkatan biaya pakan yang signifikan secara proporsional. Jika telur jumbo tidak laku cepat, risiko kerusakan atau kedaluwarsa menjadi pertimbangan utama.