INFOTREN.ID - Minuman kekinian seperti kopi susu gula aren dan boba teh kini sangat digemari oleh berbagai kalangan usia, termasuk generasi muda. Popularitas minuman manis ini seringkali membuat konsumen tidak menyadari kandungan gula dan lemak tinggi di dalamnya.
Kekhawatiran serius muncul dari kalangan akademisi mengenai dampak jangka panjang konsumsi minuman manis tersebut terhadap kesehatan metabolisme tubuh. Risiko kesehatan ini semakin relevan bagi mereka yang berusia di bawah 40 tahun.
Seorang dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan peringatan spesifik mengenai potensi penyakit hati berlemak non-alkoholik atau fatty liver. Kondisi ini sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia yang lebih tua.
Peringatan ini dikeluarkan sebagai respons terhadap tren peningkatan konsumsi minuman tinggi kalori dan gula di Indonesia. Konsumsi berlebihan secara rutin menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Dikutip dari sumber berita, diungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi kopi susu dan boba secara rutin dapat memicu penumpukan lemak di organ hati. Hal ini terjadi karena asupan gula sederhana yang sangat tinggi.
"Kopi susu dan boba itu sama-sama tinggi gula, dan kalau dikonsumsi setiap hari bisa memicu obesitas dan fatty liver dini," ujar Dr. Ir. Rina Amelia, M.Si, Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.
Dr. Rina Amelia menekankan bahwa kondisi hati berlemak kini mulai mengintai mereka yang berusia 30-an. Fenomena ini menjadi indikasi bahwa gaya hidup modern membawa beban kesehatan yang signifikan pada usia produktif.
"Kita melihat trennya mulai bergeser, di mana usia 30-an sudah mulai mengalami masalah hati berlemak, padahal biasanya itu penyakit lansia," kata Dr. Ir. Rina Amelia, M.Si.
Ia juga menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada kandungan gula tambahan yang terkandung dalam minuman tersebut. Gula yang berlebih akan diubah menjadi lemak oleh hati dan disimpan dalam jangka waktu panjang.