INFOTREN.ID - Pada hari Kamis, 28 Mei 2026, sistem penanggalan Jawa menetapkan perhitungan spesifik berdasarkan hitungan weton, yaitu Kamis Kliwon. Penetapan ini memiliki relevansi budaya yang penting bagi masyarakat tradisional Jawa dalam menentukan hari baik dan memahami watak kelahiran.

Weton Kamis Kliwon yang jatuh pada tanggal tersebut memiliki bobot nilai neptu yang spesifik, yaitu berjumlah 16. Nilai gabungan ini menjadi acuan utama dalam perhitungan primbon Jawa kuno yang masih dihidupi oleh sebagian besar masyarakat Jawa.

Sistem penanggalan Jawa yang digunakan mengombinasikan perhitungan siklus bulan atau qamariyah dengan siklus pasaran Jawa yang khas. Menurut temuan dari laman penanggalan digital tanggalans.com, perpaduan antara hari Kamis dan pasaran Kliwon dianggap memiliki nilai spiritualitas tinggi.

"Perpaduan antara hari Kamis dan pasaran Kliwon menghasilkan nilai spiritualitas tinggi yang sering kali dihubungkan dengan sifat kepemimpinan yang kuat," demikian informasi yang didapatkan dari analisis penanggalan digital tersebut.

Perhitungan bobot neptu didapatkan dari penjumlahan nilai hari Masehi dan nilai pasaran Jawa yang bersangkutan. Hari Kamis mempunyai nilai 8, sementara pasaran Kliwon juga memiliki bobot 8, sehingga total neptunya menjadi 16.

Meskipun berada di era modern, kalender Jawa masih diadopsi secara luas untuk berbagai keperluan penting, seperti penjadwalan upacara adat, menentukan tanggal pernikahan, hingga panduan masa tanam bagi sektor agraris. Struktur penanggalan Jawa ini membagi waktu dalam hitungan yang teratur setiap bulannya.

Dilansir dari portal disdik.jabarprov.go.id, pergerakan kalender lokal ini tetap harus berjalan selaras dengan kalender nasional untuk sinkronisasi agenda tahunan. Sistem penanggalan qamariyah Jawa ini memiliki siklus dua belas bulan dalam satu tahun, menyerupai pola kalender Hijriah.

Mekanisme pergantian hari dalam kalender Jawa sangat berbeda dengan penanggalan Masehi internasional yang berganti pada tengah malam pukul 00.00. Perbedaan mendasar ini sangat memengaruhi interpretasi waktu dalam tradisi Jawa.

Menurut informasi budaya dari detik.com, pergantian hari dalam penanggalan tradisional Jawa ditetapkan saat matahari terbenam atau setelah waktu salat Magrib tiba.