INFOTREN.ID – Kenaikan pangkat Kolonel Infanteri Iswan Nusi menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI menarik perhatian publik. Di tengah perdebatan soal karier militer yang kerap disederhanakan antara “tempur” dan “non-tempur”, sosok Brigjen TNI Iswan Nusi justru mencerminkan kompleksitas kepemimpinan modern di tubuh TNI.

Perjalanan karier Iswan Nusi menunjukkan bahwa kepemimpinan militer tidak hanya dibentuk dari pengalaman di medan tempur, tetapi juga dari kemampuan mengelola dinamika sosial, komunikasi strategis, serta kematangan dalam sistem organisasi.

Rekam Jejak Karier dari Teritorial hingga Operasi

Brigjen TNI Iswan Nusi bukan sosok instan. Ia meniti karier dari berbagai posisi strategis, salah satunya sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim). Dalam peran ini, ia berhadapan langsung dengan masyarakat serta berbagai dinamika sosial yang kompleks.

“Peran tersebut menuntut ketegasan, ketenangan, dan kemampuan mengambil keputusan cepat di tengah situasi yang cair,” ujar Iswan Nusi, Senin (30/3/2026).

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon 764/Lamba Baua di Kaimana, Papua. Penugasan ini memiliki tingkat risiko tinggi, bukan hanya dari aspek keamanan, tetapi juga koordinasi lintas sektor demi menjaga stabilitas wilayah.

Kuasai Komunikasi Strategis dan Teknologi

Tak hanya berpengalaman di lapangan, Iswan Nusi juga pernah mengemban tugas di bidang penerangan militer. Di era disrupsi informasi, posisi ini menjadi sangat krusial dalam membangun narasi dan kepercayaan publik terhadap institusi TNI.

Ia menegaskan pentingnya kemampuan membaca situasi, baik di lapangan maupun di ruang digital.
“Saya juga perlu menguasai teknologi terbaru termasuk AI,” ungkapnya.

Kemampuan komunikasi strategis ini menjadi bagian penting dalam kepemimpinan militer modern, di mana pertahanan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui pengelolaan informasi.

Lulusan Terbaik Sesko TNI 2025

Puncak perjalanan karier Iswan Nusi ditandai dengan keberhasilannya menempuh pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI).
Tak hanya lulus, ia mencatat prestasi membanggakan sebagai lulusan terbaik Pendidikan Reguler (Dikreg) 54 Sesko TNI tahun 2025 dengan predikat Magna Cumlaude.

Prestasi ini menjadi bukti kapasitas intelektual dan kepemimpinan strategisnya dalam memahami kompleksitas pertahanan negara di tingkat makro.
“Di sinilah seorang perwira diuji untuk memahami keputusan strategis secara menyeluruh,” jelasnya.

Kini Jabat Asops Kodam Jaya

Berkat rekam jejak dan prestasinya, Iswan Nusi kini dipercaya mengemban jabatan sebagai Asisten Operasi (Asops) Kodam Jaya. Posisi ini memiliki peran penting dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi militer di wilayah strategis ibu kota.

Kenaikan Pangkat dan Persepsi Publik

Kenaikan pangkat Iswan Nusi sempat memicu beragam persepsi di masyarakat. Namun, banyak pihak dinilai belum memahami mekanisme promosi di lingkungan TNI yang dilakukan secara ketat dan berlapis.

Dalam sistem militer modern, kenaikan pangkat perwira tinggi tidak ditentukan secara individual, melainkan melalui mekanisme kolektif berdasarkan rekam jejak jabatan, pengalaman operasional, hingga capaian pendidikan strategis.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi publik dalam memahami sistem karier militer secara objektif, bukan sekadar berdasarkan persepsi.

Cerminan Kepemimpinan Militer Modern

Karier Brigjen TNI Iswan Nusi menjadi gambaran bahwa kepemimpinan militer dibangun dari tiga pilar utama, yakni pengalaman lapangan, kematangan sistem, dan keberlanjutan pembelajaran.
Dengan kombinasi tersebut, Iswan Nusi dinilai layak menyandang pangkat Brigjen sekaligus menjadi representasi perwira TNI yang adaptif terhadap tantangan zaman.