Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, akhirnya buka suara mengenai motif di balik serangan militer terhadap Iran yang dilakukan baru-baru ini. Ia mengungkapkan bahwa tindakan agresif tersebut diambil setelah Washington mendapat informasi mengenai rencana serangan Israel ke wilayah Teheran. Langkah ini disebut sebagai strategi pendahuluan untuk memitigasi risiko keamanan bagi personel militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Rubio menegaskan bahwa pihaknya telah memprediksi Iran akan melancarkan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat pasca aksi Israel tersebut. Dalam keterangannya di Capitol Hill pada Senin (2/3), ia menyebut serangan pendahuluan adalah satu-satunya cara untuk meminimalisir jumlah korban. Tanpa tindakan tersebut, Amerika Serikat diyakini akan menanggung kerugian personel yang jauh lebih besar akibat gempuran balik Teheran.

Pernyataan resmi ini muncul hanya beberapa saat sebelum militer Amerika Serikat mengonfirmasi kenaikan jumlah korban jiwa akibat serangan balasan Iran. Setidaknya enam personel dilaporkan tewas dalam rangkaian peristiwa yang memicu ketegangan tinggi di tingkat global tersebut. Meskipun Washington dan Tel Aviv menyerang lebih dulu, Rubio berkilah bahwa tindakan itu bertujuan untuk menggagalkan ancaman langsung yang sangat nyata. "Ancaman itu benar-benar nyata," ujar Rubio saat menjelaskan urgensi operasi militer tersebut kepada awak media dan anggota dewan. Ia menuduh Iran sedang menimbun rudal dan pesawat nirawak (drone) untuk melindungi ambisi pengembangan senjata nuklir mereka. Menurut Rubio, jika Amerika Serikat tidak bertindak cepat, Iran akan segera menyerang aset-aset militer mereka sesaat setelah konflik dengan Israel pecah.

Tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal ini terus dibantah keras oleh pihak Teheran yang menyatakan program nuklir mereka murni untuk tujuan damai. Marco Rubio mengklaim bahwa tujuan utama dari perang ini adalah untuk melumpuhkan kapabilitas rudal serta fasilitas nuklir milik Iran secara total. Di sisi lain, ia juga memberikan sinyal kuat bahwa Washington sangat terbuka terhadap kemungkinan adanya pergantian rezim di negara tersebut.

Presiden Donald Trump sebelumnya juga telah berulang kali menyuarakan keinginannya untuk melihat perubahan pemerintahan di Iran melalui dukungan warga lokal. Puncak dari ketegangan ini terjadi pada 28 Februari saat Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan berskala besar. Operasi udara yang masif tersebut dikabarkan telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di hari yang sama.

Pasukan Garda Revolusi Islam segera memberikan respons dengan menggempur berbagai aset militer Amerika Serikat dan Israel di seluruh Timur Tengah. Kematian Khamenei baru dikonfirmasi secara resmi oleh pihak Iran pada hari Minggu setelah serangan balasan awal diluncurkan. Kini dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak di tengah kekhawatiran pecahnya perang terbuka yang lebih luas.

Sumber: Cnnindonesia

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260303090729-134-1333676/as-akui-serangan-ke-iran-dikompori-israel