INFOTREN.ID - Periode libur hari raya Idulfitri selalu membawa perubahan signifikan pada dinamika lalu lintas di ibu kota Jakarta. Bagi para pelaku transportasi daring, fenomena ini menghadirkan situasi paradoks yang menantang.

Di satu sisi, para pengemudi ojek online (ojol) menikmati kenyamanan jalanan yang jauh lebih lancar dan bebas hambatan dibandingkan hari-hari normal. Kondisi ini seharusnya meningkatkan efisiensi kerja mereka selama perjalanan.

Namun, kenyamanan tersebut berbanding terbalik dengan realitas di lapangan mengenai perolehan pendapatan. Sepinya aktivitas warga yang mudik atau berlibur berdampak langsung pada permintaan jasa transportasi.

Salah satu mitra ojol senior yang telah beroperasi sejak tahun 2015, merasakan betul dampak dari penurunan permintaan ini. Pengalaman hampir satu dekade di jalanan membuatnya peka terhadap perubahan pola order selama musim liburan.

Penurunan drastis jumlah orderan penumpang ini mulai terasa signifikan sejak masa libur Lebaran resmi diberlakukan. Hal ini memaksa para pengemudi mencari strategi baru agar tetap mendapatkan penghasilan harian.

Rudi, nama pengemudi tersebut, mengungkapkan keprihatinannya mengenai minimnya penumpang yang bisa ia temui belakangan ini. Ia ditemui oleh awak media saat sedang menunggu pesanan di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, pada hari Jumat (20/3/2026).

"Ini sudah nggak ada orang (penumpang), orang nggak dapat saya, dua hari," kata Rudi saat ditemui di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Jumat (20/3/2026).

Situasi ini menyoroti tantangan unik yang dihadapi sektor ekonomi informal seperti ojol selama periode libur panjang nasional. Mereka harus beradaptasi dengan perubahan mendadak dalam permintaan layanan.

Para pengemudi kini dituntut lebih kreatif dalam mencari celah orderan, misalnya dengan fokus pada layanan pesan antar makanan di area perumahan yang masih dihuni. Ini menjadi strategi bertahan di tengah minimnya pergerakan penumpang.