INFOTREN.ID - Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang akrab disapa Gus Yaqut, kembali menjadi sorotan publik setelah Lembaga Antirasuah memanggilnya kembali. Kedatangan ini menandai perubahan status penahanannya dari tahanan rumah menjadi tahanan rutan penuh.
Pada hari Selasa tanggal 24 Maret 2026, Gus Yaqut terlihat memasuki Gedung Merah Putih KPK yang berlokasi di Jakarta. Kehadiran mantan pejabat tinggi negara ini selalu menarik perhatian media massa dan masyarakat luas.
Keputusan KPK untuk mengembalikan Gus Yaqut ke Rutan diambil setelah proses evaluasi terhadap status penahanan sebelumnya. Sebelumnya, ia memang sempat menikmati fasilitas tahanan rumah selama periode tertentu dalam proses penyidikan.
Kasus yang menjerat Gus Yaqut terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan kuota haji tahun berjalan. Isu ini telah menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan, terutama menjelang musim haji.
Penetapan kembali Gus Yaqut sebagai tahanan rutan merupakan langkah tegas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penanganan kasus ini. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kelancaran proses hukum selanjutnya.
"Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut kembali tiba di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (24/3/2026)," demikian disampaikan oleh salah satu petugas yang berjaga di lokasi, dilansir dari sumber terpercaya.
Lebih lanjut, status hukum Gus Yaqut kini telah kembali diperketat setelah sebelumnya berstatus tahanan rumah. Keputusan ini menunjukkan bahwa KPK mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan jenis penahanan yang paling sesuai.
"Tersangka dugaan korupsi kuota haji itu ditetapkan kembali menjadi tahanan rutan setelah sebelumnya berstatus tahanan rumah," tegas petugas tersebut saat memberikan keterangan singkat kepada awak media, dilansir dari sumber terpercaya.
Keputusan ini menegaskan komitmen KPK untuk tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi, bahkan terhadap mantan pejabat setingkat menteri. Proses hukum terhadap Gus Yaqut diperkirakan akan terus berlanjut intensif.

