INFOTREN.ID - Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan klaim mengejutkan mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Hegseth menyatakan bahwa Mojtaba mengalami luka parah dan kemungkinan besar mengalami cacat fisik.

Klaim kontroversial ini disampaikan Hegseth dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Washington pada hari Jumat (13/3). Pernyataan ini muncul setelah hampir dua pekan intensitas serangan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Hegseth secara spesifik menyoroti keanehan dalam komunikasi publik dari pemimpin baru tersebut pasca insiden besar yang menewaskan banyak anggota keluarganya. "Kami tahu pemimpin baru yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan cacat," ujar Hegseth.

Ia kemudian menggarisbawahi kurangnya bukti visual atau audio dari Mojtaba Khamenei. "Ia merilis pernyataan kemarin. Sebenarnya pernyataan yang lemah, dan tidak ada suara maupun video. Itu hanya pernyataan tertulis," kata Hegseth.

Dilansir dari Reuters, serangan Israel pada awal konflik dilaporkan menewaskan banyak anggota keluarga Mojtaba, termasuk ayahnya, Ali Khamenei, dan juga istrinya. Hingga kini, tidak ada foto atau rekaman terbaru Mojtaba Khamenei yang dirilis ke publik.

Pernyataan publik pertama Mojtaba sejak eskalasi konflik disampaikan hanya melalui format teks yang dibacakan oleh seorang pembawa acara televisi pada hari Kamis (12/3). Dalam teks tersebut, ia berjanji akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz.

Mojtaba juga menyerukan agar negara-negara tetangga segera menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka, atau bersiap menghadapi serangan balasan dari Iran.

Hegseth mempertanyakan mengapa Mojtaba hanya memilih menyampaikan pernyataan tertulis ketimbang tampil langsung di hadapan publik. "Iran punya banyak kamera dan banyak alat perekam suara. Mengapa hanya pernyataan tertulis?" ujarnya.

Lebih lanjut, Hegseth berargumen bahwa kondisi fisik dan politik Mojtaba menjadi alasan di balik keengganannya tampil. "Saya rasa Anda tahu alasannya. Ayahnya sudah meninggal. Dia ketakutan, terluka, sedang melarikan diri, dan tidak memiliki legitimasi," ujarnya.