INFOTREN.ID - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali menunjukkan pengawasannya secara langsung terhadap kemajuan militer negara tersebut. Kali ini, fokus pengawasan tertuju pada uji coba terbaru sistem persenjataan strategis.

Uji coba tersebut melibatkan peluncuran rudal jelajah dan rudal antikapal perang yang dieksekusi langsung dari atas kapal perang milik Angkatan Laut Korea Utara. Langkah ini diambil setelah Pyongyang meningkatkan frekuensi peluncuran rudal dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut kantor berita resmi negara tersebut, Korean Central News Agency (KCNA), aktivitas militer penting ini terlaksana pada hari Minggu (12/4) waktu setempat. Uji coba ini merupakan bagian dari rangkaian pengembangan senjata baru yang gencar dilakukan oleh negara bersenjata nuklir tersebut.

Informasi mengenai detail uji coba tersebut kemudian disampaikan kepada publik internasional, dilansir dari AFP, pada hari Selasa (14/4/2026). Fakta ini menggarisbawahi keseriusan Pyongyang dalam memodernisasi kapabilitas pertahanannya.

KCNA merinci bahwa dua unit rudal jelajah strategis berhasil diuji coba dalam manuver tersebut. Rudal jenis ini dirancang memiliki kemampuan jelajah jarak jauh dan ketahanan operasional yang signifikan.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa kedua rudal jelajah strategis tersebut mampu mempertahankan penerbangan di udara selama durasi lebih dari dua jam. Keberhasilan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam teknologi propulsi dan navigasi rudal Korut.

Sementara itu, sistem senjata lain yang diuji coba adalah rudal antikapal perang. Rudal ini memiliki peran vital dalam proyeksi kekuatan maritim Korea Utara di perairan sekitar Semenanjung Korea.

KCNA turut menginformasikan bahwa rudal antikapal yang diluncurkan dalam sesi uji coba tersebut sukses mengudara selama 33 menit. Durasi penerbangan ini menjadi tolok ukur keberhasilan tes sistem senjata tersebut.

"Uji coba senjata itu digelar pada Minggu (12/4) waktu setempat, dan merupakan uji coba terbaru dalam serangkaian peluncuran rudal baru-baru ini oleh negara bersenjata nuklir tersebut," demikian laporan yang disampaikan oleh KCNA, dilansir dari AFP.