INFOTREN.ID — Enam belas hari tanpa listrik bukan lagi sekadar dampak bencana. Itu sudah menjadi cermin kepemimpinan. Di Aceh, banjir memang merusak jaringan, tetapi yang lebih terasa bagi warga adalah ketidakpastian. Hingga kini, PT PLN belum juga berani memberi satu hal paling sederhana: kepastian kapan listrik pulih sepenuhnya.
Dalam situasi krisis, publik tidak membutuhkan laporan teknis yang berlapis-lapis. Mereka membutuhkan keputusan. Seperti kata sejarawan Doris Kearns Goodwin, saat krisis orang tidak melihat sistem, mereka melihat pemimpin. Dan di Aceh, yang terlihat justru pola lama: perbaikan berjalan, solusi darurat absen.
Padahal, blackout di Aceh bukan peristiwa pertama. Sebelum bencana pun, pemadaman besar sudah dua kali terjadi. Artinya, kerentanan sistem ini bukan kejutan. Yang patut dipertanyakan adalah mengapa tidak ada langkah antisipatif ketika krisis benar-benar datang.
Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) sekaligus Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Teuku Yudhistira, menilai situasi ini mencerminkan kegagalan berpikir strategis. Menurutnya, solusi cepat sebenarnya tersedia dan realistis.
“Salah satu solusi paling praktis dan cepat untuk kondisi darurat adalah panel surya dengan baterai, sambil menunggu jaringan PLN pulih sepenuhnya,” ujar Yudhistira, dalam keterangannya, Kamis (18/12).
Dalam bencana, jaringan listrik hampir selalu lumpuh. Tiang roboh, kabel terendam, dan distribusi BBM untuk genset kerap terhambat. Di kondisi seperti ini, sistem tenaga surya justru bekerja karena berdiri sendiri, tanpa bergantung pada jaringan atau pasokan bahan bakar.
Yudhistira mengingatkan, PLN memiliki anggaran darurat dan dana TJSL yang secara regulasi bisa digunakan, terutama untuk titik vital seperti rumah sakit, SPBU, PDAM, dan lokasi pengungsian. Ketika langkah ini tidak diambil, publik wajar bertanya soal prioritas.
“Kalau solusi yang jelas dan tersedia tidak dipakai, jangan salahkan masyarakat kalau curiga anggaran lebih sibuk dipakai untuk pencitraan daripada untuk menyalakan listrik,” sindirnya.
“Kalau solusi yang jelas dan tersedia tidak dipakai, jangan salahkan masyarakat kalau curiga anggaran lebih sibuk dipakai untuk pencitraan daripada untuk menyalakan listrik,” sindirnya.

