INFOTREN.ID - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai dinamika pergeseran kekuatan dalam tatanan global saat ini. Fokus utamanya adalah pada potensi ancaman yang muncul seiring dengan konsentrasi penguasaan teknologi canggih.

Permasalahan krusial yang diangkat adalah tren dunia yang cenderung memusatkan kendali penuh pada segelintir individu dengan kapasitas finansial yang sangat besar. Fenomena ini menciptakan ketidakseimbangan baru dalam peta kekuatan internasional.

Sentralisasi ini khususnya terlihat dalam ranah pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang kini dianggap sebagai penentu arah peradaban umat manusia ke depan. Siapa yang menguasai AI, berpotensi besar mengendalikan masa depan.

Luhut menekankan bahwa pengembangan teknologi AI modern memerlukan sumber daya komputasi berskala masif yang biayanya sangat tinggi. Kebutuhan sumber daya ini menjadi penghalang utama bagi entitas lain untuk berpartisipasi aktif.

Ketergantungan finansial yang ekstrem tersebut secara otomatis menciptakan hambatan signifikan bagi pihak-pihak di luar lingkaran miliarder teknologi untuk ikut serta dalam perlombaan inovasi ini. Hal ini mengancam persaingan yang sehat.

"Ia menyoroti potensi ancaman serius yang timbul dari penguasaan teknologi oleh segelintir individu dengan kekayaan luar biasa," ujar Luhut Binsar Pandjaitan, mengenai situasi terkini.

Kecenderungan pemusatan kendali ini, menurut pandangannya, berpotensi mengubah struktur kekuatan global yang selama ini kita kenal. Hal ini memerlukan perhatian serius dari pemangku kepentingan global.

"Permasalahan utama yang diangkat adalah kecenderungan dunia untuk memusatkan kendali pada segelintir miliarder yang menguasai infrastruktur teknologi mutakhir," kata beliau.

Infrastruktur teknologi mutakhir, termasuk pusat-pusat pengembangan kecerdasan buatan, kini menjadi titik fokus perebutan pengaruh antarnegara maupun antarindividu kaya raya. Ini adalah babak baru dalam geopolitik.