INFOTREN.ID - Kabar mengejutkan datang dari Iran mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei, sosok yang digadang-gadang sebagai penerus Pemimpin Tertinggi Iran saat ini. Beliau dikabarkan harus menjalani perawatan medis darurat di kota Qom.
Kondisi kesehatan Mojtaba yang memburuk ini langsung memicu spekulasi liar mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali negara. Hal ini menjadi krusial mengingat Iran tengah berada di tengah ketegangan geopolitik tinggi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Informasi mengenai kondisi darurat Mojtaba ini pertama kali diungkapkan melalui analisis intelijen dari pihak AS dan Israel. Data tersebut kemudian diolah dan dipublikasikan oleh media internasional.
Menurut sumber intelijen yang dikutip, usia Mojtaba Khamenei saat ini adalah 56 tahun. Usia ini seharusnya menempatkannya pada posisi prima untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan negara.
Detail lebih lanjut mengenai kondisi kesehatannya terungkap melalui sebuah memo diplomatik yang berhasil dilihat oleh media The Times. Memo tersebut memberikan gambaran suram tentang situasi internal di lingkaran kekuasaan Teheran.
"Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan medis darurat di kota Qom, Iran," demikian bunyi salah satu bagian dari memo tersebut.
Dalam dokumen rahasia tersebut, disebutkan bahwa kondisi Mojtaba Khamenei saat ini dikategorikan sebagai "parah". Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan analisis politik internasional mengenai kelangsungan pemerintahan.
"Pemimpin tertinggi Iran yang berusia 56 tahun itu, menurut memo diplomatik tersebut, berada dalam kondisi 'parah' dan 'tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim' Teheran," sebagaimana tertuang dalam laporan tersebut.
Kabar mengenai ketidakmampuan Mojtaba dalam pengambilan keputusan ini, yang bersumber dari penilaian intelijen AS dan Israel, terungkap kepada publik pada hari Selasa, 7 April 2026.