INFOTREN.ID - Kekhawatiran akan meluasnya konflik regional kini meningkat tajam pasca serangkaian serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari.
Dalam situasi genting tersebut, Pakistan secara tak terduga tampil ke permukaan dengan menawarkan diri untuk mengambil peran sebagai mediator utama.
Islamabad secara resmi mengajukan kesediaan untuk memfasilitasi pertemuan antara Washington dan Teheran di meja perundingan guna meredakan ketegangan yang ada.
Peran mediasi ini tergolong jarang diemban Pakistan, terutama dalam ranah diplomasi berisiko tinggi yang biasanya melibatkan negara-negara besar.
Negosiasi-negosiasi sensitif sebelumnya antara Amerika Serikat dan Iran umumnya selalu difasilitasi oleh negara-negara Timur Tengah yang memiliki kedekatan historis.
Negara-negara seperti Qatar dan Oman secara tradisional menjadi perantara utama dalam upaya meredakan perselisihan antara kedua kekuatan global tersebut.
Namun, situasi berubah drastis karena negara-negara perantara tersebut kini diketahui berada di bawah tekanan atau bahkan menjadi sasaran serangan Iran selama eskalasi perang yang terjadi.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Islamabad untuk mengambil alih tugas krusial sebagai jembatan penghubung antara kedua belah pihak yang berseteru.
"Pakistan tergolong jarang diminta untuk bertindak sebagai perantara dalam diplomasi berisiko tinggi," demikian disebutkan dalam laporan tersebut, dilansir dari Associated Press dan abc.net.au.