Infotren.id – Kabar duka datang dari dunia gerakan mahasiswa dan seni perlawanan. Johnsony Maharsak Lumban Tobing, yang lebih dikenal sebagai John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, meninggal dunia pada Rabu malam, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB di RSA UGM Yogyakarta.
Almarhum mengembuskan napas terakhir setelah hampir dua bulan menjalani perawatan intensif akibat stroke dan pneumonia, Kamis (26/2/2026).
Sejak dirawat di ruang ICU, kondisinya terus dipantau tim medis. Tubuhnya mungkin melemah karena sakit, namun semangat yang pernah ia nyalakan melalui karya-karyanya tak pernah benar-benar padam.
John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965. Ia kemudian merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Di kampus inilah perjalanan hidupnya bersinggungan erat dengan dinamika perlawanan mahasiswa terhadap rezim Soeharto pada era Orde Baru.
Semasa menjadi mahasiswa, John dikenal aktif dalam berbagai organisasi dan jejaring gerakan lintas kota. Ia terlibat dalam konsolidasi aksi-aksi besar mahasiswa dan kerap berada di barisan depan ketika gelombang kritik terhadap kekuasaan semakin ditekan.
Di tengah situasi represif yang ditandai dengan penangkapan aktivis, pembredelan pers, hingga kekerasan aparat terhadap demonstran, John memilih melawan dengan caranya sendiri yakni melalui suara dan lagu.
Namanya kemudian lekat dengan lagu Darah Juang, komposisi yang menjelma menjadi himne gerakan mahasiswa dan rakyat. Lagu tersebut lahir dari kegelisahan kolektif atas ketidakadilan, penggusuran, kekerasan negara, serta pembungkaman kebebasan sipil pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Secara garis besar, Darah Juang menggambarkan penderitaan rakyat kecil yang tertindas oleh sistem yang tidak adil.

