INFOTREN.ID - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia akhirnya angkat bicara mengenai penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru di Iran. Respons ini disampaikan menyusul dinamika politik signifikan yang terjadi di Teheran.

Respon resmi ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang diadakan pada hari Jumat, 13 Maret, oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri RI. Fokus utama pernyataan Indonesia adalah pada implikasi regional dan global dari suksesi kepemimpinan tersebut.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyampaikan harapan besar Indonesia terhadap arah kebijakan Iran di bawah kepemimpinan yang baru. Indonesia memandang pentingnya stabilitas kawasan dalam konteks ini.

"Tentu bagi Indonesia, yang penting adalah harapan agar ini dapat menciptakan semakin cepat terjadinya perdamaian," ujar Nabyl, menegaskan prioritas utama diplomasi Indonesia.

Nabyl juga menyoroti kedalaman sejarah hubungan antara kedua negara yang telah berlangsung lama. Hubungan bilateral Indonesia dan Iran telah terjalin erat selama lebih dari tujuh dekade.

"Dari segi hubungan bilateral, Indonesia dan Iran memiliki kerja sama yang cukup panjang, lebih dari 75 tahun," tambah Nabyl.

Meskipun mengakui sejarah panjang kerja sama tersebut, Nabyl menekankan bahwa situasi geopolitik saat ini menuntut fokus yang lebih spesifik dari semua pihak. Prioritas utama adalah upaya kolektif untuk meredakan ketegangan.

"Tapi dalam konteks saat ini, harapan kita adalah agar fokusnya pada upaya segera menciptakan perdamaian," pungkas Nabyl.

Mojtaba Khamenei secara resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada hari Senin, 9 Maret. Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, sang ayah.