INFOTREN.ID - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menyerukan agar pemerintah segera meningkatkan kewaspadaan. Pihak yang perlu diwaspadai adalah Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT Pertamina (Persero).
Peringatan ini ditujukan terkait potensi dampak destabilisasi dari konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng) terhadap rantai pasok minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Fokus utama adalah persaingan impor di tengah ketidakpastian global yang mungkin timbul.
Eddy Soeparno menyoroti bahwa saat ini, porsi impor energi migas Indonesia dari kawasan Timur Tengah masih berada di angka yang relatif moderat dibandingkan negara lain. Hal ini menjadi salah satu kunci mitigasi risiko.
"Saat ini Indonesia mengimpor 20 persen kebutuhan migasnya dari Timur Tengah. Selebihnya diimpor dari Nigeria, Angola, Australia bahkan Brazil," kata Eddy dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Ketergantungan yang tidak terlalu besar ini memberikan sedikit ruang bernapas bagi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pasokan yang dipicu oleh gangguan di Timur Tengah. Situasi ini memungkinkan adanya diversifikasi sumber energi.
Eddy menegaskan bahwa Indonesia memiliki opsi untuk mengganti sumber pasokan jika terjadi sumbatan pada jalur distribusi migas utama yang melewati Selat Hormuz. "Artinya, Indonesia mampu mengandalkan dan bahkan meningkatkan suplai migasnya dari negara-negara di luar Timur Tengah saat pasokan migas dari Timur Tengah terhenti akibat penutupan lalu lintas migas yang melalui Selat Hormuz," kata Eddy dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Meskipun demikian, Wakil Ketua MPR RI mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah dan harus membandingkan posisinya dengan negara-negara importir besar lainnya. Negara-negara dengan volume impor jauh lebih besar sangat rentan terhadap guncangan geopolitik di kawasan tersebut.
"Namun Eddy menyampaikan bahwa Indonesia perlu mencermati negara-negara lain seperti Cina, India, Jepang dan Korea Selatan yang memiliki volume impor yang lebih besar dari Indonesia, baik secara angka absolut maupun dari sumber Timur Tengah," tambah Eddy.
Pencermatan terhadap negara-negara besar tersebut penting agar Indonesia dapat mengantisipasi potensi lonjakan permintaan global yang bisa mempengaruhi harga dan ketersediaan migas dari jalur alternatif.

