INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman serius terhadap Iran. Ancaman tersebut secara eksplisit menyatakan niat untuk membawa Iran kembali ke era pra-modern atau yang dikenal sebagai 'zaman batu'.
Sinyal mengenai potensi serangan balasan dari Washington mulai mengemuka dalam beberapa waktu terakhir. Trump memberikan indikasi bahwa respons militer AS terhadap Iran akan segera terjadi dalam waktu dekat.
Ancaman ini segera ditanggapi dengan tegas oleh Teheran, yang menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam menghadapi provokasi tersebut. Iran mengindikasikan kesiapan untuk melancarkan serangan balasan yang jauh lebih keras jika AS melancarkan agresi.
Pernyataan keras dari Trump tersebut menggarisbawahi babak baru dalam perseteruan panjang antara kedua negara. Eskalasi retorika ini meningkatkan kewaspadaan internasional mengenai stabilitas regional.
Lebih spesifik mengenai waktu serangan yang diisyaratkan, Trump menyebutkan kerangka waktu yang cukup dekat. "Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan," ujar Donald Trump, dilansir CNN, Kamis (2/4/2026).
Ancaman balasan dari Iran tidak hanya diarahkan kepada Amerika Serikat sebagai pihak yang mengancam. Pemerintah Iran juga memperingatkan bahwa Israel akan menjadi sasaran serangan yang lebih intensif jika konfrontasi fisik benar-benar terjadi.
Pernyataan agresif dari Washington ini menunjukkan bahwa upaya de-eskalasi diplomatik tampaknya mengalami jalan buntu. Fokus kini beralih pada kesiapan militer kedua belah pihak dalam menghadapi kemungkinan konflik terbuka.
Ancaman Trump untuk menghancurkan infrastruktur Iran hingga kembali ke 'zaman batu' merupakan salah satu retorika paling keras yang pernah dilontarkan olehnya menjelang periode serangan yang akan datang. Hal ini mempertegas posisi AS yang menganggap Iran sebagai ancaman signifikan yang harus segera ditindak.