INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan peringatan keras kepada Iran. Ultimatum tersebut menuntut Teheran untuk segera membuka jalur pelayaran vital Selat Hormuz dalam tenggat waktu hanya 48 jam.
Tindakan tegas Trump ini disampaikan melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social, yang langsung menarik perhatian global. Media massa internasional, termasuk AFP, memberitakan perkembangan ini pada hari Sabtu, 4 April 2026.
Peringatan keras dari Washington tersebut tampaknya tidak digubris oleh otoritas Iran. Teheran merespons dengan nada meremehkan, melabeli ultimatum yang diberikan oleh pemimpin Gedung Putih itu sebagai sebuah 'ancaman bodoh'.
Trump secara spesifik mengancam bahwa jika Iran gagal memenuhi tuntutan tersebut atau mencapai kesepakatan yang diinginkan AS, mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat. Konsekuensi tersebut digambarkan dengan kata-kata yang sangat tajam oleh mantan Presiden AS tersebut.
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ," tulis Trump dalam pernyataannya, dilansir dari AFP. Kutipan ini menyoroti kesiapan Trump untuk mengambil langkah drastis demi mengendalikan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia.
Ancaman yang lebih serius juga disampaikan Trump mengenai potensi kehancuran yang akan menimpa Iran apabila mereka tetap bergeming. Ia memperingatkan Teheran bahwa jika tidak patuh, mereka akan menghadapi 'neraka'.
Pernyataan Trump ini jelas menaikkan tensi antara kedua negara yang memang sudah lama berselisih paham mengenai isu nuklir dan pengaruh regional. Sikap Iran yang menolak tunduk menunjukkan adanya garis tegas dalam mempertahankan kepentingan nasional mereka.
Reaksi Iran yang segera melabeli peringatan tersebut sebagai 'ancaman bodoh' mengindikasikan bahwa mereka tidak terintimidasi oleh batas waktu yang ditetapkan oleh Donald Trump. Hal ini membuka kemungkinan eskalasi lebih lanjut di perairan strategis tersebut.
Fokus utama dari kontroversi ini adalah Selat Hormuz, sebuah titik sempit yang krusial bagi perdagangan global, terutama minyak mentah. Setiap gangguan di sana dapat memicu lonjakan harga energi di seluruh dunia.