INFOTREN.ID - Kelompok militan Houthi yang berbasis di Yaman mengisyaratkan kemungkinan serius untuk menutup Selat Bab el-Mandeb. Langkah ini merupakan respons terhadap eskalasi militer yang semakin memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel.
Selat Bab el-Mandeb memegang peranan krusial sebagai penghubung strategis antara Laut Merah dan Teluk Aden. Potensi penutupan jalur pelayaran vital ini dapat menimbulkan guncangan signifikan pada rantai pasok global.
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh rentetan serangan rudal yang dilancarkan oleh Houthi menuju wilayah Israel pada Sabtu (28/3) waktu setempat. Serangan tersebut menandai respons militer pertama dari kelompok yang didukung Teheran tersebut.
Serangan balasan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Insiden tersebut menjadi titik balik yang meningkatkan intensitas konflik di kawasan tersebut.
Wakil Menteri Informasi dalam pemerintahan Houthi, Mohammed Mansour, mengonfirmasi adanya koordinasi militer yang intensif dengan sekutu regional. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan langkah strategis dalam menghadapi lawan bersama.
"Kami berada dalam koordinasi gabungan dengan saudara-saudara kami di Iran, Lebanon, dan Irak," kata Mohammed Mansour saat berbicara kepada Televisi Al-Araby.
Pernyataan tersebut memberikan indikasi kuat mengenai sejauh mana jaringan dukungan yang dimiliki oleh Houthi dalam melancarkan operasi militer mereka. Informasi ini dilansir dari Anadolu Agency dan Middle East Monitor pada Senin (30/3/2026).
Ancaman penutupan selat tersebut menunjukkan bahwa Houthi siap meningkatkan tekanan ekonomi dan geopolitik sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan luar negeri AS dan Israel. Langkah ini berpotensi memperluas medan konflik Timur Tengah.