Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah global yang signifikan pada perdagangan hari Rabu (4/3/2026). Sentimen pasar saat ini terfokus pada ketegangan di Selat Hormuz serta langkah strategis Amerika Serikat dalam mengamankan jalur perdagangan energi. Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran mendalam para pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia di masa depan.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik melampaui level US$75 per barel setelah mencatatkan reli 11 persen selama dua hari terakhir. Pada pukul 7.51 pagi waktu Singapura, kontrak WTI untuk pengiriman April terpantau menguat 1,1 persen ke angka US$74,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup pada posisi US$81,40 per barel dengan kenaikan harian mencapai 4,7 persen.
Menanggapi situasi yang kian genting, Presiden Donald Trump mengumumkan keterlibatan US International Development Finance Corporation untuk menawarkan asuransi kapal tanker. Kebijakan ini bertujuan menjamin kelancaran arus energi serta perdagangan internasional yang terhambat akibat pecahnya peperangan. Selain perlindungan finansial, Amerika Serikat juga berencana menyediakan pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal yang melintas jika diperlukan.
Gangguan operasional mulai dirasakan oleh produsen energi besar di kawasan tersebut menyusul penutupan beberapa jalur air strategis. Irak, sebagai produsen OPEC terbesar kedua, dilaporkan mulai menghentikan aktivitas di ladang minyak Rumaila serta proyek West Qurna 2. Keputusan penutupan ladang raksasa ini diambil oleh pihak berwenang setempat demi keamanan di tengah meningkatnya risiko serangan militer yang tidak terduga.
Pertempuran yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah menciptakan kekacauan masif pada peta perdagangan minyak dan gas global. Serangan balasan yang meluas memaksa banyak produsen untuk membatasi kapasitas produksi serta menutup fasilitas kilang dan pabrik ekspor utama. Lonjakan harga komoditas energi ini kembali membangkitkan momok krisis energi global yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi banyak negara.
Pada hari kelima konflik, Pasukan Pertahanan Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke infrastruktur pertahanan dan lokasi peluncuran rudal milik Iran. Kondisi ini membuat Selat Hormuz, yang mengalirkan seperlima minyak dunia, menjadi zona berbahaya yang kini dihindari oleh banyak kapal tanker. Korps Garda Revolusi Islam bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa wilayah perairan tersebut berada dalam status perang dan berisiko terkena serangan drone.
Di sisi lain, laporan industri menunjukkan adanya kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat sebanyak 5,7 juta barel pada pekan lalu. Meskipun terdapat peningkatan cadangan domestik di AS, sentimen geopolitik dari Timur Tengah tetap mendominasi pergerakan harga di pasar internasional. Data resmi pemerintah mengenai total kepemilikan minyak dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu untuk memberikan gambaran pasar yang lebih komprehensif.
Sumber: Market.bisnis

