INFOTREN.ID - Pasar energi global menyaksikan fluktuasi harga minyak yang sangat dramatis dalam beberapa hari terakhir, bergerak dari lonjakan tajam menuju penurunan signifikan yang jarang terjadi. Pergerakan ekstrem ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah.
Kondisi pasar saat ini juga dibayangi oleh potensi intervensi besar dari lembaga energi dunia untuk menstabilkan pasokan global. Wacana mengenai pelepasan cadangan minyak darurat dunia mulai menjadi fokus utama para pelaku pasar energi.
Mengacu pada data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (11/3/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent tercatat berada di level US$87,95 per barel, menunjukkan kenaikan tipis dari posisi hari sebelumnya di US$87,80. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada sedikit lebih tinggi di US$83,76 per barel, dibandingkan dengan US$83,45 pada hari Selasa.
Namun, jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, volatilitas yang terjadi sangat ekstrem dan mencengangkan. Pada tanggal 9 Maret, harga Brent sempat mencapai puncaknya di US$98,96, sementara WTI menembus US$94,77.
Bahkan, pada perdagangan intraday hari Senin di awal pekan, harga minyak sempat melampaui ambang batas psikologis, menembus US$119 per barel, menandai level tertinggi sejak tahun 2022 sebelum akhirnya berbalik arah secara drastis.
Penurunan harga yang sangat curam tersebut terjadi setelah munculnya indikasi bahwa konflik di Timur Tengah mungkin akan segera mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat memberikan pernyataan yang mengindikasikan bahwa perang dengan Iran bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan pasar sebelumnya.
Pernyataan tersebut sontak memicu aksi ambil untung (profit-taking) secara besar-besaran di kalangan investor, menyebabkan harga minyak anjlok lebih dari 11% hanya dalam satu hari perdagangan. Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak tahun 2022 lalu.
Di tengah gejolak harga tersebut, pasar dikejutkan oleh sebuah laporan yang bersumber dari Wall Street Journal. Dilansir dari Reuters, International Energy Agency (IEA) dikabarkan sedang mengusulkan rencana untuk melepaskan cadangan minyak strategis dalam skala terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.
Tujuan dari usulan ini adalah untuk menutup potensi gangguan pasokan yang bisa diakibatkan oleh perang yang melibatkan Iran. Jika rencana ini benar-benar diimplementasikan, volumenya diprediksi akan melampaui rekor pelepasan sebesar 182 juta barel yang dilakukan oleh negara anggota IEA pada tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.

