INFOTREN.ID - Perkembangan terbaru dalam dunia hiburan Korea Selatan menyoroti drama populer berjudul 'Perfect Crown' yang baru saja menayangkan episode terbarunya. Tayangan episode ini secara mengejutkan telah memicu gelombang diskusi hangat di kalangan masyarakat Korea Selatan.
Diskusi tersebut muncul karena adanya dugaan bahwa drama yang mengangkat latar belakang sejarah ini menampilkan beberapa aspek penceritaan yang dinilai kurang akurat secara historis. Hal ini segera menarik perhatian para penonton yang memiliki ketertarikan mendalam pada genre sageuk atau drama sejarah.
Kontroversi utama yang menjadi sorotan publik berpusat pada detail visual dan lisan yang disajikan dalam adegan krusial. Adegan spesifik yang dipermasalahkan adalah momen upacara resmi penobatan tokoh sentral, Ian, sebagai Raja baru dalam narasi tersebut.
Para penggemar setia drama sejarah merasa bahwa terdapat inkonsistensi yang cukup signifikan antara penggambaran di layar dengan tradisi kerajaan Korea yang selama ini dikenal publik. Mereka menyoroti perbedaan dalam tata cara dan bahasa yang digunakan dalam ritual kenegaraan tersebut.
Salah satu poin krusial yang diangkat oleh penonton adalah penggunaan seruan dialog yang dianggap keliru selama prosesi penobatan Raja Ian. Perbedaan minor namun signifikan ini langsung terdeteksi oleh mata jeli para penikmat sejarah.
Dilansir dari Detikcom, penonton mengidentifikasi bahwa seruan yang digunakan adalah 'Cheonse' dalam momen penting tersebut. Padahal, menurut pemahaman umum penonton, seruan yang seharusnya digunakan untuk menunjukkan dukungan tertinggi kepada seorang penguasa kerajaan adalah 'Manse'.
Seruan 'Manse' sendiri telah lama dikenal secara luas sebagai ekspresi penghormatan dan dukungan penuh yang ditujukan kepada Raja dalam konteks kerajaan Korea kuno. Penggantian istilah ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai riset produksi drama tersebut.
"Salah satu sorotan krusial adalah penggunaan seruan dialog 'Cheonse' alih-alih 'Manse' saat prosesi penobatan Raja Ian," ungkap sumber yang membahas isu ini, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu akurasi sejarah ketika diangkat dalam medium populer seperti drama televisi. Pihak produksi 'Perfect Crown' kini diharapkan memberikan tanggapan resmi mengenai kontroversi dialog dan kostum bertema sejarah tersebut.