INFOTREN.ID - Harga tiket pesawat untuk periode libur Lebaran 2026 masih menjadi sorotan utama publik, meskipun telah ada upaya pemberian diskon oleh pihak maskapai. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) menyusul keluhan masyarakat mengenai tingginya harga yang tertera di berbagai agen perjalanan daring.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa diskon yang dijanjikan, bahkan hingga mencapai 20 persen, belum sepenuhnya memberikan efek signifikan pada harga akhir yang dibayarkan konsumen. Masalah utama yang diidentifikasi terletak pada struktur penerbangan yang dipilih oleh calon penumpang.
Permasalahan terbesar muncul ketika penumpang memilih rute yang melibatkan penerbangan transit berlapis atau sambungan yang tidak efisien. Skema transit yang berulang ini secara otomatis meningkatkan total biaya perjalanan, menutupi potensi potongan harga yang seharusnya didapat.
Menteri Perhubungan menyoroti secara spesifik bahwa opsi transit yang bertingkat ini menjadi semacam 'jebakan' yang membuat harga akhir terlihat jauh lebih mahal dari seharusnya. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa diskon yang ditawarkan tidaklah substansial atau bahkan tidak terasa.
Menhub mengungkapkan bahwa diskon tiket pesawat Lebaran 2026 belum maksimal di OTA. Opsi transit berlapis bikin harga terlihat mahal meski ada potongan hingga 20 persen," ujar beliau.
Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap bagaimana potongan harga tersebut dikalkulasikan saat diterapkan pada jadwal penerbangan dengan banyak persinggahan. Pemerintah perlu memastikan transparansi harga bagi masyarakat.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kementerian Perhubungan dalam memastikan ketersediaan moda transportasi udara yang terjangkau selama musim puncak perjalanan seperti Lebaran. Fokus kini beralih pada edukasi penumpang mengenai pemilihan rute yang lebih langsung.
"Menhub ungkap diskon tiket pesawat Lebaran 2026 belum maksimal di OTA," dilansir dari sumber berita yang memuat pernyataan tersebut. Ini menjadi penekanan bahwa efektivitas kebijakan diskon masih perlu ditingkatkan.
Penerbangan transit yang harus dilakukan beberapa kali seringkali memaksa penumpang untuk membeli tiket terpisah atau melalui segmen yang berbeda, yang kemudian terakumulasi menjadi harga yang memberatkan. Hal ini terjadi terlepas dari adanya potongan tarif pada tiket dasar.

