INFOTREN.ID - Ketegangan di Timur Tengah memaksa sejumlah negara mengambil langkah diplomatik langsung ke Iran demi menjamin kelancaran jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz. Manuver ini dilakukan setelah Iran menutup jalur krusial tersebut sebagai respons atas tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel, yang berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
Tindakan Iran ini mengubah peta diplomasi; alih-alih mendekati Washington, negara-negara kunci kini memilih jalur komunikasi langsung dengan Teheran. Pendiri lembaga think tank Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menyoroti pergeseran fokus ini sebagai cerminan siapa yang sesungguhnya memegang kendali situasi di kawasan tersebut.
"Negara-negara kunci sekarang menghubungi Iran untuk mencoba menemukan cara untuk menegosiasikan jalur aman mereka sendiri [melalui selat]," ujar Trita Parsi kepada Al Jazeera.
Parsi lebih lanjut menegaskan bahwa negosiasi ini menunjukkan perubahan prioritas diplomasi di tengah krisis maritim yang terjadi. "India sudah mencapai kesepakatan. Negara-negara Eropa, Prancis dan Italia, juga. Mereka (bicara) ke Iran untuk melakukan ini. Bukan ke Washington. Dan itu mencerminkan dengan sangat jelas siapa yang mengendalikan situasi di sana," imbuhnya.
India menjadi salah satu negara yang dilaporkan telah berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran terkait izin melintas kapalnya. Dilansir dari Reuters, sumber pelayaran menyebutkan dua kapal pengangkut gas minyak cair (LPG) berbendera India telah diizinkan melintas.
Kapal tanker LPG India bernama Shivalik dilaporkan telah melintasi selat tersebut dengan pengawalan dari Angkatan Laut India, sementara kapal kedua, Nanda Devi, dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat. India juga mendapatkan pengecualian dari kebijakan Iran untuk tidak mengizinkan pasokan bagi AS atau sekutunya meninggalkan selat.
Perkembangan ini terjadi setelah Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (13/3), di mana mereka membahas transit barang dan energi dari Teluk. Sebagai bentuk itikad baik, India sebelumnya memberikan tempat berlindung bagi 183 pelaut Iran saat perang pecah.
Prancis juga dilaporkan tengah aktif bernegosiasi dengan Iran untuk memastikan kapal-kapal mereka dapat melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Dua pejabat Prancis bahkan mengungkapkan upaya pemerintahnya untuk membentuk sebuah koalisi guna mengamankan jalur perdagangan vital tersebut.
Menurut pejabat Prancis tersebut, mereka telah berkonsultasi dengan negara-negara Eropa, Asia, dan Teluk Arab selama seminggu terakhir untuk menyusun rencana pengawalan kapal tanker oleh kapal perang. "Dalam konteks saat ini, kondisi tidak memungkinkan misi apa pun untuk mengerahkan pasukan, tetapi kami awalnya sedang mengerjakan diplomasi sehingga kami kemudian bisa membahas detailnya dan akhirnya dapat beroperasi," kata pejabat Prancis, dilansir dari Reuters.

