INFOTREN.ID - Dunia diplomasi internasional diguncang oleh kabar duka menyusul wafatnya mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Islam Iran, Kamal Kharrazi. Kepergiannya terjadi setelah ia mengalami luka serius akibat insiden serangan yang terjadi pada awal pekan ini.

Kharrazi menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis malam (9/4) waktu setempat, sebagaimana dikonfirmasi oleh lingkaran terdekat almarhum. Kematian ini menyusul luka parah yang dideritanya akibat serangan yang terjadi pada tanggal 1 April sebelumnya.

Serangan yang menjadi titik balik ini diketahui menargetkan kediaman pribadi Kharrazi yang berlokasi di jantung ibu kota Iran, Teheran. Detail mengenai sifat serangan tersebut masih menjadi sorotan utama dalam penyelidikan yang dilakukan otoritas setempat.

Tragedi ini membawa duka ganda bagi keluarga besar Kharrazi. Dilansir dari Press TV, media resmi Iran, disebutkan bahwa istri dari mantan diplomat senior tersebut juga menjadi korban jiwa dalam serangan yang sama.

Informasi mengenai meninggalnya sang mantan Menlu ini didapatkan oleh publik pada hari Jumat (10/4/2026). Berita tersebut segera menyebar luas, memicu reaksi dari berbagai pihak di kancah politik global.

"Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Kamal Kharrazi meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita dalam serangan Amerika Serikat-Israel awal pekan ini," demikian diberitakan oleh media Iran, dilansir dari Press TV.

Lebih lanjut, keterangan mengenai waktu dan lokasi spesifik kejadian turut disampaikan. "Kharrazi yang terluka dalam serangan pada 1 April lalu yang menargetkan rumahnya di Teheran, ibu kota Iran, meninggal pada Kamis (9/4) malam waktu setempat, menurut orang-orang terdekatnya," ungkap sumber terdekat, dilansir dari Press TV.

Keterangan mengenai korban jiwa lainnya dalam insiden berdarah tersebut juga dipertegas. "Istrinya juga meninggal dalam serangan yang sama," demikian dikonfirmasi oleh pihak keluarga, dilansir dari Press TV.

Peristiwa ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan Timur Tengah, mengingat dugaan keterlibatan dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan Israel, dalam serangan yang menewaskan tokoh penting Iran tersebut.