INFOTREN.ID - Indonesia menunjukkan progres nyata dalam upaya mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat melalui strategi de-dolarisasi yang kian membuahkan hasil. Hal ini terlihat jelas dari peningkatan masif dalam volume transaksi yang menggunakan mata uang lokal di kancah perekonomian domestik.
Bank Indonesia (BI) mencatat adanya lonjakan signifikan dalam volume transaksi Local Currency Transaction (LCT) selama periode empat bulan pertama tahun 2026. Periode ini mencakup data dari bulan Januari hingga April 2026.
Volume transaksi mata uang lokal tersebut berhasil menyentuh angka fantastis, yaitu mencapai 22,61 miliar dollar AS. Nilai ini dikonversi menjadi sekitar Rp400,19 triliun.
Perhitungan nilai fantastis ini didasarkan pada asumsi kurs yang ditetapkan oleh otoritas moneter. Kurs asumsi yang digunakan oleh Bank Indonesia adalah Rp17.700 per satu dollar AS.
Pencapaian volume transaksi LCT ini merupakan sebuah lonjakan yang luar biasa jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam perilaku transaksi ekonomi.
Secara tahunan, nilai transaksi yang menggunakan mata uang domestik tersebut melonjak hingga mencapai 309 persen. Angka ini jauh melampaui capaian tahun sebelumnya yang hanya tercatat sebesar $7,33 miliar.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, pencapaian ini menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat penggunaan mata uang Rupiah dalam berbagai aktivitas perdagangan dan investasi. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas nilai tukar domestik.
"Volume Local Currency Transaction (LCT) pada periode Januari hingga April 2026 telah mencapai angka yang fantastis," sebagaimana disampaikan oleh pihak terkait.
Peningkatan substansial ini mengindikasikan bahwa upaya sosialisasi dan implementasi kerangka kerja LCT oleh Bank Indonesia mulai mendapatkan momentum yang kuat di kalangan pelaku usaha.