INFOTREN.ID - “Embun di ujung fajar. Di setiap peluh yang jatuh, ada doa yang tumbuh.”
Di sebuah sudut tenang kelurahan Waiwerang Kota, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, lahirlah seorang lelaki sederhana pada 26 Februari 1976, bernama Muhammad Fill Lamarobak, atau akrab disapa Fill.
Sejak kecil, hidup tak pernah memanjakannya. Ia bukan anak pejabat atau konglomerat, melainkan anak timur di negara bernama Indonesia ini yang hidup dalam keterbatasan.
Lulus dari SMA Muhammadiyah Lamahala tahun 1995, ia harus menundukkan impian melanjutkan pendidikan tinggi.
“Ekonomi keluarga tidak mendukung, sehingga saya pun memutuskan menjadi buruh saja,” kenangnya saat bertutur kepada penulis.
Tak ada rasa malu, hanya tekad untuk bertahan. Di siang hari ia memikul beban, di malam hari ia mengajar mengaji tanpa upah, mewarisi semangat dari almarhum sang kakek terkasih.
Namun siapa sangka, lelaki yang dulunya hanyalah buruh harian lepas di Waiwerang, Adonara Timur, kini berdiri sebagai Guru SMPN 1 Adonara Timur, pelatih Paskibra, dan pembina Pramuka.
Kisah inspiratif ini bukan sekadar narasi sukses, melainkan nyala bara tentang semangat, harapan, dan perjuangan yang tak pernah kenal kata menyerah pada keadaan.
Jalan Berliku dari Lumpur ke Lentera
Di awal perjalanan, hidup Fill ibarat jalan berbatu tanpa alas kaki. Bertahun-tahun ia bekerja tanpa gelar, namun tidak tanpa cita. Hatinya tetap mengabdi.

