MATARAM.INFOTREN.ID- Pada tanggal 28 Februari 2026 lalu, Iran diserang secara membabi buta melalui udara oleh militer Amerika Serikat dan Israel yang.mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Akibat tindakan brutal terhadap Iran ini, dunia mengecam Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai dalang utama munculnya pembalasan ganas Iran.
Tentu saja dengan kondisi tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai menghadapi tekanan politik domestik setelah konflik dengan Iran memicu gejolak ekonomi secara global.
Beberapa pihak menyebut bahwa perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel itu dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi Donald Trump dan Partai Republik menjelang Pemilu Sela di Negeri Paman Sam itu.
Pastinya, kekhawatiran itu muncul karena konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi. Harga minyak mentah dunia bahkan sempat menembus US$100 (sekitar Rp1,69 juta) per barel untuk pertama kalinya.
Terungkap bahwa lonjakan harga ini terjadi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, seiring gangguan pasokan akibat perang dan terganggunya jalur perdagangan energi global.
Biasanya kebijakan luar negeri tidak terlalu mempengaruhi pemilihan sela di AS, namun dampaknya bisa berbeda jika konflik tersebut langsung memukul kondisi ekonomi masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh salah seorang Profesor Manajemen Politik dari George Washington University, yakni Todd Belt. Belt mengatakan:
"Biasanya kebijakan luar negeri tidak memainkan peran besar dalam pemilihan paruh waktu, kecuali ada hubungan langsung dengan bagaimana hal itu memperburuk kehidupan masyarakat," ungkap Belt.

