INFOTREN.ID - Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kini tengah menghantam kantong warga Amerika Serikat, mencatatkan rata-rata harga yang cukup signifikan.
Harga rata-rata bensin di berbagai wilayah Amerika Serikat dilaporkan telah melambung tinggi, menyentuh angka substansial yakni 3,6 dolar per galon.
Kondisi ini tentu saja menimbulkan gejolak di tengah masyarakat yang merasakan dampak langsung terhadap biaya operasional sehari-hari mereka.
Sebuah survei terkini yang dilakukan oleh lembaga independen menunjukkan adanya korelasi kuat antara kenaikan harga ini dengan kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa.
Hasil survei tersebut mengungkapkan bahwa hampir separuh dari responden survei menyalahkan secara spesifik kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Secara rinci, sebanyak 48 persen dari total responden yang disurvei secara eksplisit menunjuk kebijakan era Trump sebagai faktor utama penyebab lonjakan harga BBM.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakpuasan publik yang signifikan terhadap manajemen energi dan ekonomi di bawah kepemimpinan saat itu.
"Sebanyak 48 persen warga menyalahkan kebijakan Presiden Donald Trump atas lonjakan tersebut," demikian hasil temuan survei yang dikutip mengenai situasi harga bensin, dilansir dari sumber berita terkait.
Kenaikan harga hingga mencapai 3,6 dolar per galon tersebut menjadi titik kritis yang memicu sentimen negatif publik terhadap arah kebijakan energi nasional.

